Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lockdown Ganggu Akses Pekerja Migran hingga Pasokan Pangan di AS

Para petani Amerika yang bersiap untuk musim panen memperingatkan dampak terganggunya rantai proses produksi buah dan sayur setelah Kedutaan Besar AS di Meksiko menghentikan wawancara visa untuk para pekerja pertanian musiman.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  16:13 WIB
Polisi perbatasan Amerika Serikat dan pekerja proyek tembok perbatasan berdiri di dekat ekskavator proyek pembangunan tembok perbatasan antara El Paso dan Ciudad Juarez di wilayah Meksiko, Selasa (5/2/2019). - Reuers/Jose Luis Gonzalez
Polisi perbatasan Amerika Serikat dan pekerja proyek tembok perbatasan berdiri di dekat ekskavator proyek pembangunan tembok perbatasan antara El Paso dan Ciudad Juarez di wilayah Meksiko, Selasa (5/2/2019). - Reuers/Jose Luis Gonzalez

Bisnis.com, JAKARTA - Pembatasan perjalanan dalam rangka mencegah penyebaran virus corona berlaku di seluruh dunia akan berdampak besar pada pergerakan pekerja migran yang menopang produksi makanan di banyak negara. 

Salah satu contoh yang muncul saat ini adalah kasus di AS dan Meksiko. Para petani Amerika yang bersiap untuk musim panen memperingatkan dampak terganggunya rantai proses produksi buah dan sayur setelah Kedutaan Besar AS di Meksiko menghentikan wawancara visa untuk para pekerja pertanian musiman. Tak hanya itu, rumah jagal juga terancam kekurangan tenaga kerja akibat pembatasan perjalanan tersebut.  

Kedutaan Besar AS di Meksiko mengumumkan bahwa wawancara visa harus dihentikan tanpa batas waktu untuk memproses aplikasi yang telah masuk, termasuk untuk pekerja pertanian musiman di bawah program visa H-2A.

"Departemen Pertanian AS secara langsung terlibat dengan Departemen Luar Negeri dan bekerja dengan rajin untuk memastikan gangguan minimal dalam aplikasi visa H2A selama masa-masa yang tidak pasti ini," kata agensi itu dalam keterangannya, dilansir Bloomberg, Rabu (18/3/2020). 

Sekretaris Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan bahwa Departemen Luar Negeri akan memproses aplikasi visa pekerja tani yang memenuhi syarat untuk keringanan wawancara. Departemen Luar Negeri AS tidak menanggapi permintaan komentar atas penghentian wawancara visa.

Sama halnya dengan Kanada, yang juga menghadapi ancaman kekurangan pasokan daging karena sektor itu sangat bergantung pada pekerja asing. Chris White, Presiden Dewan Daging yang berbasis di Ottawa mengatakan pembatasan dapat menahan visa bagi para pekerja dari Amerika Tengah atau Filipina. 

"Tidak akan ada orang yang memanen tanaman. Ini akan menghancurkan petani dan pada akhirnya bagi rantai pasokan dan konsumen. Mereka tidak akan memiliki makanan," kata Robert Guenther, Wakil Presiden Senior untuk kebijakan publik di United Fresh Produce Association, yang mewakili petani, distributor, grosir dan pengecer AS.

Di Australia, petani mengatakan bahwa kemungkinan akan terjadi kekurangan pasokan buah dan sayur akibat pembatasan perjalanan mengingat rekrutmen pekerja asing berjumlah sepertiga dari total pegawai musiman. 

Pemerintah Australia pada awal pekan ini memberlakukan masa isolasi diri dua minggu bagi siapa pun yang datang ke negara itu. Hal itu membatasi akses industri pertanian ke sumber utama tenaga kerja musiman. Kota kecil pesisir Bowen di Queensland utara sedang bersiap untuk panen sayuran musim dingin dan merupakan contoh daerah yang dapat terkena dampaknya.

"Mereka memasok selama musim dingin 90% dari tomat dan capicum kami, sehingga kota kecil tumbuh secara eksponensial selama musim panen dan sangat bergantung pada orang-orang yang datang dari luar negeri dan luar negeri," kata Richard Shannon, manajer kebijakan dan advokasi di kelompok industri hortikultura Growcom. 

Ancaman krisis tenaga kerja akibat pembatasan perjalanan ini telah menunjukkan bagaimana industri pertanian global saling terkait satu sama lain. Di banyak negara penghasil makanan utama, industri ini sangat bergantung pada pekerja migran dan imigran untuk mengisi pekerjaan yang tak diminati warga kelas menengah.

Di belahan bumi utara, para petani bersiap-siap untuk musim semi puncak dan musim panas. Peternak juga cenderung menjual lebih banyak hewan untuk disembelih pada saat-saat ini. 

Sementara itu, produsen biji-bijian dan minyaknya di AS tidak terlalu bergantung pada pekerja musiman. Guenther mengatakan, sayuran berdaun hijau, buah beri, dan mentimun kemungkinan besar panennya akan terganggu. Sedangkan buah-buahan seperti persik, plum, nektarin, dan jeruk akan terpengaruh hingga Mei dan Juni. 

Zippy Duvall, presiden American Farm Bureau Federation, mengatakan pembatasan masih akan menghambat panen. "Di bawah pembatasan baru, petani Amerika tidak akan memiliki akses ke semua tenaga kerja imigran yang dibutuhkan pada saat kritis di musim tanam," kata Duvall. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertanian bahan pangan Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top