Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inggris dan Uni Eropa Mulai Perundingan PascaBrexit Hari Ini

Para pejabat Inggris dan Uni Eropa membuka perundingan kesepakatan dagang pascabrexit hari ini, Senin (2/3/2020). Sekitar 100 pejabat Inggris telah berada ke Brussels untuk melakukan pembicaraan yang bertujuan mengkodifikasi bagaimana hubungan dagang Inggris dan UE.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 02 Maret 2020  |  16:47 WIB
Ilustrasi brexit - Reuters
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Para pejabat Inggris dan Uni Eropa membuka perundingan kesepakatan dagang pascaBrexit hari ini, Senin (2/3/2020).

Sekitar 100 pejabat Inggris telah berada ke Brussels untuk melakukan pembicaraan yang bertujuan mengkodifikasi bagaimana hubungan dagang Inggris dan UE, serta pengaturan dalam bidang-bidang seperti hak penangkapan ikan dan keamanan internal setelah Brexit.

UE akan menjadi tuan rumah negosiasi putaran pertama di Brussels minggu ini. Sesi berikutnya akan digelar selama tiga hari di London mulai 18 Maret hingga 6 April 2020, satu hari sebelum Hari Raya Paskah.

Tim Inggris dipimpin oleh David Frost. Dalam pidatonya bulan lalu, Frost mengatakan pemerintah sedang mendekati pembicaraan dengan cara yang cukup percaya diri. Dia menambahkan bahwa Inggris tidak siap untuk berkompromi pada beberapa poin fundamental.

Dilansir Bloomberg, menurut sumber yang dekat dengan perundingan ini, ada kekhawatiran bahwa argumen dan pendirian yang dibawa masing-masing pihak akan membawa perundingan ke jalan buntu pada awal April mendatang.

Inggris dan UE diketahui sudah berselisih tentang beberapa masalah utama, khususnya bantuan negara, di mana blok tersebut bersikeras bahwa Inggris harus berpegang pada standar UE bahkan setelah meninggalkan pasar tunggal itu.

Perdana Menteri Boris Johnson juga mengancam akan mundur dari komitmen ini untuk menghindari polemik perbatasan di pulau Irlandia.

Jika negosiasi ini gagal, Inggris terancam akan melenggang tanpa ketentuan perdagangan khusus yang berlaku dengan serikat tunggal pasar dan pabean blok pada akhir tahun ini.

Hal itu akan menimbulkan gangguan besar pada perdagangan dan berdampak pada melemahnya ekonomi dalam jangka panjang. Selain itu, kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi jutaan orang yang tinggal, bekerja dan secara rutin melakukan perjalanan di Inggris dan UE.

Adapun,Inggris menginginkan kesepakatan tarif dan perdagangan bebas kuota, sesuatu yang menurut UE mustahil tercapai. Johnson menegaskan tidak akan memperpanjang perundingan setelah 31 Desember dan akan mencabut diri jika tak ada perkembangan hingga Juni medatang.

Jika itu terjadi, Inggris akan kembali ke ketentuan perdagangan awal seperti yang ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia. Hal itu membuat bisnis menghadapi pengembalian tarif dan kuota.

Sumber yang dekat dengan negosiasi ini mengatakan momen krisis bahkan bisa datang sebelum Juni, terutama jika tidak ada pihak yang mau mengalah pada negosiasi putaran pertama.

Inggris sebelumnya telah menolak untuk menerima konsep UE tentang ketentuan dasar untuk memastikan persaingan yang adil. Blok itu mengatakan ketentuan itu mengharuskan London untuk memastikan negara itu tidak melemahkan anggota UE di bidang-bidang seperti hak-hak pekerja, perpajakan dan standar lingkungan.

Mengenai kekuatan pemerintah untuk memberikan subsidi kepada bisnis, UE menginginkan peraturan blok untuk diterapkan di dan oleh Inggris.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa Brexit

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top