Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bila Virus Corona Pandemi, Pariwisata Rugi Rp695 Triliun

Sektor pariwisata di berbagai negara memang cukup bergantung pada kehadiran turis-turis asal China.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  11:23 WIB
Pengunjung berendam di kolam air panas alami di resor Toya Devasya, yang bersumber langsung dari Gunung Batur, Kintamani, Bangli, Bali, Selasa (4/6/2019). - Bisnis/Tim Jelajah Jawa/Bali 2019
Pengunjung berendam di kolam air panas alami di resor Toya Devasya, yang bersumber langsung dari Gunung Batur, Kintamani, Bangli, Bali, Selasa (4/6/2019). - Bisnis/Tim Jelajah Jawa/Bali 2019

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor pariwisata dunia diprediksi merugi US$22 miliar atau Rp312 triliun akibat epidemi virus corona (COVID-19). Bahkan, angka tersebut berpotensi naik lagi apabila epidemi virus corona berkembang menjadi pandemi dalam waktu dekat untuk durasi yang lebih lama.

"Sebenarnya ini masih terlalu awal untuk membuat prediksi. Namun, Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (WTTC) bersama Oxford Economics memprediksi krisis ini akan membuat sektor pariwisata merugi US$22 miliar," ujar Gloria Guevara, kepala dari WTTC, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Jumat (28/2/2020).

Guevara menjelaskan, perhitungan di atas dibuat oleh lambaganya dan Oxford Economics dengan dua acuan.

Pertama, berdasarkan kondisi sektor pariwisata dunia saat terjadi pandemi SARS dan H1N1.

Kedua, dengan melihat penurunan angka perjalanan turis asal Cina yang selama ini mengambil porsi besar persentase perjalanan di seluruh dunia.

Sektor pariwisata di berbagai negara memang cukup bergantung pada kehadiran turis-turis asal China. Sebagai contoh, dari total angka kedatangan turis internasional per tahun di Australia, 15 persennya berasal dari China. Tahun 2003, prosentasenya hanya 4 persen sebagaimana dikutip dari Reuters.

Jumlah turis asal China yang menggunakan penerbangan internasional juga sangat besar. Tahun 2003, angkanya hanya 6,8 juta per tahun. Tahun 2018, angkanya sudah menyentuh 63,7 juta per tahun berdasarkan data dari otoritas penerbangan China. Hal itu menyumbang ke sektor pariwisata global dari US$322 miliar pada tahun 2003 menjadi US$838 tahun 2018.

"Turis asal China adalah turis yang paling banyak menghabiskan uang juga ketika mereka berwisata," ujar Guevara yang menyebut bahwa angka perjalanan turis asal China turun sekitar 7 persen akibat virus corona.

Guevera menambahkan, estimasi yang dibuat oleh lembaganya bersama Oxford Economics masih berpotensi berubah.

Jika epidemi virus corona berubah menjadi pandemi dan berlangsung hingga kuartal ketiga, seperti pandemi SARS, maka kerugian sektor pariwisata dunia bisa mencapai US$49 milliar atau Rp695 triliun.

Adapun negara yang sektor pariwisata akan paling terdampak, kata Guevara, adalah negara-negara yang selama ini selalu bergantung pada turis asal China. Beberapa di antaranya adalah Hong Kong, Macau, Thailand, Kamboja, dan Filipina.

Sebagai catatan, beberapa negara sudah bersiap-siap untuk berhadapan tidak hanya dengan pandemi virus corona, tetapi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi mereka.

China, misalnya, telah menyiapkan berbagai keringan perizinan dan pinjaman untuk memastikan bisnis tetap berjalan di tengah krisis virus corona. Di Indonesia, harga tiket penerbangan diringankan untuk melawan tren penerbangan menurun akibat turis takut virus corona.

Sementara itu, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) meminta tiap negara untuk bersikap proporsional dalam menyikapi perkembangan penyebaran virus Corona (COVID-19). Dengan begitu, sektor wisata dunia tidak terlalu terpukul.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata Virus Corona

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top