Virus Corona Mewabah, Ini Cerita Pekerja Migran di Hong Kong

Penyebaran virus corona yang kian masif mulai menimbulkan kepanikan di wilayah lainnya. Termasuk Hong Kong.
Maria Yuliana Benyamin
Maria Yuliana Benyamin - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  08:11 WIB
Virus Corona Mewabah, Ini Cerita Pekerja Migran di Hong Kong
Seorang anak memakai masker di sebuah toko suvenir di Hong Kong mengantisipasi penyebaran wabah coronavirus, 26 Januari 2020. - REUTERS / Tyrone Siu

Bisnis.com, JAKARTA - Penyebaran virus corona yang kian masif mulai menimbulkan kepanikan di wilayah lainnya. Termasuk Hong Kong.

Nurhalimah, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Hong Kong, bercerita kepanikan kian menyeruak di Hong Kong, bahkan mulai terasa sejak 2 pekan lalu.

Rasa takut kian menjadi-jadi apalagi sejak masker penutup mulut mulai langka dijual di pasaran, karena telah habis diborong ataupun belum ada stok baru.

Tak hanya masker, cairan pembersih tangan atau hand sanitizer pun diburu masyarakat. Alhasil, kelangkaan hand sanitizer juga terjadi di pasaran.

"Semua panik. Baik masyarakat Hong Kong maupun pekerja migran, termasuk pekerja migran Indonesia," ujar Nurhalimah kepada Bisnis, Rabu (5/2/2020).

Menurut dia, masyarakat umumnya masih beraktivitas seperti biasa, terutama untuk yang bekerja. Namun, aktvitas anak sekolah, mulai dari playgroup hingga universitas, telah dihentikan.

Pekerja migran pun diimbau untuk tidak ke luar rumah ketika hari libur, kecuali jika ada keperluan yang sangat mendesak.

Kebutuhan yang paling mendesak saat ini, menurut Nurhalimah, adalah masker dan hand sanitizer. Pihak KJRI memang menyediakan masker, tetapi dengan jumlah yang sangat terbatas.

"Itu pun kami harus datang ke KJRI di area Causeway Bay, sedangkan kami banyak yang tinggal di penjuru Hong Kong. Untuk ke sana agak susah sebab kami menghindari naik kendaraan umum karena akan berkumpul dengan banyak orang."

Alhasil, pihak SBMI bersama Aliansi Kebangsaan untuk Indonesia pun turut membantu penyebaran masker dan hand sanitizer ke beberapa tempat untuk memudahkan akses pekerja migran asal Indonesia lainnya.

Selain menghadapi persoalan kelangkaan masker dan hand sanitizer, masyarakat juga mulai susah mendapatkan kebutuhan pokok, seperti beras, mi, dan makanan kaleng.

Kepanikan yang tinggi membuat banyak orang memborong makanan untuk stok di rumah. Pada saat yang sama, banyak toko yang tutup atau tidak beroperasi.

"Contohnya di rumah majikan saya. Stok beras tinggal 3 hari. Sudah 3 hari ini kami pergi ke toko untuk belanja kebutuhan, tapi stok di toko pun kosong," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
virus corona

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top