Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Buat Aturan Baru Perdagangan Derivatif BUMN

China membentuk aturan baru untuk perdagangan derivatif yang dilakukan oleh perusahaan milik negara agar bijak mengelola risiko perdagagan derivatif di luar negeri.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 21 Januari 2020  |  19:51 WIB
Sinopec Corp. kehilangan hampir US700 juta pada akhir 2018 dalam aktivitas perdagangan derivatif yang menjadi kerugiantradingderivatif terbesar selama sepuluh tahun terakhir. - Reuters/Bobby Yip
Sinopec Corp. kehilangan hampir US700 juta pada akhir 2018 dalam aktivitas perdagangan derivatif yang menjadi kerugiantradingderivatif terbesar selama sepuluh tahun terakhir. - Reuters/Bobby Yip

Bisnis.com, PEKANBARU - China membentuk aturan baru untuk perdagangan derivatif yang dilakukan perusahaan milik negara. Regulator mengimbau perusahaan yang berstatus badan usaha milik negara untuk bijak mengelola risiko perdagagan derivatif di luar negeri.

Hal itu dilakukan seiring upaya pembuat kebijakan mengantisipasi kerugian BUMN China dalam perdagangan futures.

Komisi Supervisi Aset dan Administrasi (Asset Supervision and Administration Commission/SASAC) China mengatakan bahwa BUMN China kini hanya boleh menggunakan produk derivatif komoditas dan keuangan untuk melindungi (hedging) risiko. Aktivitas spekulatif lainnya dilarang.

Melalui laman resminya yang dikutip Reuters, Selasa (21/1/2020), SASAC yang juga merupakan BUMN di China menyampaikan bahwa perusahaan harus menetapkan sistem pengelolaan risiko yang efektif dan melaporkan aktivitas perdagangan derivatif kepada regulator secara rutin.

“Sejak beberapa tahun terakhir bisnis derivatif perusahaan sekarang memasuki tren dan perubahan baru. Mekanisme peraturan yang ada sekarang mungkin sudah terlalu usang untuk menjawab perkembangan baru itu,” tulis SASAC.

SASAC menyebut pengetatan aturan ini dilakukan setelah ditemukan kasus mismanajemen terkait trading derivatif oleh perusahaan BUMN China, seperti prosedur perdagangan yang tidak umum, spekulasi yang diiming-imingi insentif, dan keterlambatan serta tidak akuratnya pelaporan posisi perdagangan.

Sebelumnya, Sinopec Corp. kehilangan hampir US$700 juta pada akhir 2018 dalam aktivitas perdagangan derivatif yang menjadi kerugian trading derivatif terbesar selama sepuluh tahun terakhir.

Di bawah aturan baru ini, SASAC membatasi volume hedging sebesar 90 persen dari annual turnover perusahaan, baik transaksi fisik maupun produksi. Aktivitas hedging untuk tujuan trading juga tidak boleh melebihi 80 persen dari volume fisik yang telah ditetapkan dalam aturan baru ini.

Seorang pejabat BUMN China yang menolak disebutkan namanya menyambut baik pemberlakuan aturan baru tersebut.

“Aturan baru ini menunjukkan perbaikan dengan menghapuskan aturan sebelumnya yang dibuat sangat kaku, terlalu textbook. Aturan seperti itu [yang lama] sulit untuk dilakukan,” kata sumber.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top