Penjualan Uniqlo Seret Gara-gara Gejolak Politik Asia

Gejolak politik yang terjadi di kawasan Asia berdampak pada melambatnya penjualan Uniqlo di luar negeri.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  15:35 WIB
Penjualan Uniqlo Seret Gara-gara Gejolak Politik Asia
Gerai Uniqlo - Fastretailing

Bisnis.com, BANDUNG – Gejolak politik yang terjadi di kawasan Asia berdampak pada melambatnya penjualan Uniqlo di luar negeri.

Fast Retailing, perusahaan ritel pengelola merek itu melaporkan bahwa penurunan pendapatan kuartalan terburuk dalam satu dekade untuk segmen internasionalnya.

Ritel terbesar Asia itu telah lama mengandalkan ekspansi luar negeri guna memperkuat pertumbuhannya dalam menghadapi pelemahan pasar di Jepang.

Sekarang strategi tersebut menemui kendala berupa protes politik di Hong Kong, juga percekcokan dagang antara Jepang dan Korea Selatan.

Perusahaan itu melaporkan penurunan 3,6 persen pada penjualan kuartal pertama mereka untuk Uniqlo segmen internasional, dipicu oleh dua persoalan politik tersebut.

Berkaca pada penurunan kecil 0,2 persen pada 2017, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg ini adalah penurunan triwulanan pertama untuk segmen itu dalam 10 tahun terakhir.

Laba operasi untuk bisnis internasional jatuh 28 persen, penurunan pendapatan kuartalan pertama sejak 2016.

Fast Retailing, yang juga menderita akibat pelemahan penjualan di Jepang selama kuartal tersebut, menurunkan prospek setahun penuh untuk laba operasi sebesar 11 persen.

Sementara itu, saham perusahaan jatuh sebanyak 2,3 persen pada awal tahun perdagangan Tokyo pada Jumat (10/1/2020). Saham naik 15 persen pada tahun lalu, menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada Juli.

Analis Jefferies Mike Allen mengatakan, pertumbuhan luar negeri datang dengan risiko tinggi. “Tetapi risiko selalu suit untuk diperkirakan sampai terasa dampaknya,” katanya dikutip dari Bloomberg, Jumat (10/1/2020).

Protes pro demokrasi di Hong Kong telah meninggalkan ekonomi wilayah itu di ambang kontraksi tahun pertamanya pada satu dekade, serta menyebabkan penjualan ritel anjlok 24 persen pada November.

Kerusuhan ini juga telah mengguncang merek internasional seperti Levi Strauss & Co hingga Tiffany & Co.

Di sisi lain, persoalan yang dialami oleh Uniqlo dari pertengkaran antara Tokyo dan Seoul lebih unik. Fast Retailing telah menjadi target utama pemboikotan oleh konsumen Korea Selatan terhadap produk-produk Jepang pada Juli tahun lalu.

Chief Financial Officer Takeshi Okazaki mengatakan, bisnis Uniqlo di Korea tersebut terus menurun, serta berdampak lebih besar pada penjualan. "Korea Selatan adalah segmen yang sangat penting bagi kami, dan tidak jelas berapa lama situasi ini akan berlanjut."

Negara tersebut memiliki jumlah toko Uniqlo terbesar kedua di luar negeri setelah China.

Meskipun demikian, pasar luar negeri lainnya masih bertahan. China, pendorong utama pertumbuhan pada beberapa tahun terakhir, berkinerja positif, seperti halnya Asia Tenggara.

Miliarder Jepang yang juga Presiden Fast Retailing Tadashi Yanai telah memfokuskan ekspansi Uniqlo ke luar negeri, karena populasi yang menua di Jepang memberikan sedikit peluang bagi perusahaannya untuk tumbuh.

Pada tahun lalu, perusahaan tersebut berekspansi ke pasar baru termasuk India, Vietnam, dan Italia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong, uniqlo

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top