Ampas Kopi dan Narasi Kepahlawanan

Lewat karya yang tidak biasa, Komunitas Coffee Painter mencoba mengajak masyarakat untuk mengenal para pahlawan nasional dengan lebih dalam.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 16 November 2019  |  12:14 WIB
Ampas Kopi dan Narasi Kepahlawanan
Suasana pameran Coffee in Hero, yang menggunakan media ampas kopi di atas kanvas, di Museum Basoeki Abdullah, Jakarta, yang digelar pada 5-12 November 2019. - Bisnis/Dionisio Damara

Bisnis.com, JAKARTA – Di Museum Basoeki Abdullah, Jakarta, puluhan sosok pahlawan nasional seolah bercerita melalui medium kopi di atas kanvas. Mereka seakan mengajak pengunjung untuk melintasi waktu, menelusuri sejarah perjuangan masa lalu.

Di tangan para seniman Komunitas Coffee Painter, ampas kopi lokal disulap menjadi karya seni autentik. Setidaknya, ada 40 karya lukis yang dilahirkan dari tangan 32 seniman.

Lewat pameran lukis itu, setiap seniman mencoba menarasikan sejarah dengan tidak sederhana.

"Kalau saya tutup keterangan lukisannya, Anda tahu enggak siapa pahlawan ini?" tanya Irma Haryadi, salah satu seniman komunitas Coffee Painter, kepada Bisnis pada pekan lalu.

Di atas kanvas berukuran 50 x 70 sentimeter (cm) itu, terlukis sosok I Gusti Ketut Jelantik, patih dari Kerajaan Buleleng yang memimpin Perang Jagaraga pada 1848-1849. Sementara itu, di sisi kiri lukisan tergambar suasana perang yang terjadi pada periode tersebut.

Salah satu lukisan menggunakan ampas kopi buatan Komunitas Coffee Painter yang dipamerkan di Museum Basoeki Abdullah, Jakarta pada 5-12 November 2019./Bisnis-Dionisio Damara

Di sudut bawah lukisan, tidak ketinggalan Irma melukiskan sosok Jenderal Michiels. Jenderal itu merupakan musuh dari Jelantik yang akhirnya berhasil memupuskan perjuangan rakyat Bali dalam peperangan Jagaraga.

Irma mengatakan ketika melukis sosok Jelantik, dirinya perlu meriset sejarah perang puputan di Bali guna menambah wawasannya terkait objek lukisnya.

“Itu menjadi peraturan dalam pameran supaya kami [seniman] dapat menyampaikan cerita tiap pahlawan kepada pengunjung,” ujarnya.

Hal serupa dilakukan Patar Butarbutar ketika menggambarkan Sisingamangaraja XII dengan medium kopi di atas kanvas berukuran 50 x 60 cm. Di situ pula, Patar mencoba memasukkan unsur sejarah, simbol kerajaan, dan cinta ke dalamnya.

Sisingamangaraja XII, atau yang memiliki nama kelahiran Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, merupakan raja di negeri Toba, Sumatra Utara, yang berjuang melawan penjajahan Belanda. Kesaktiannya yang kebal terhadap senjata dan peluru acap kali membuat musuhnya kewalahan.

Namun, Sisingamangaraja XII memiliki pantangan yang membuatnya tidak boleh terkena darah. Jika ada setetes darah saja menempel di tubuhnya, kesaktian Sisingamangaraja XII akan hilang. Hal itu yang kemudian dimanfaatkan Belanda ketika peperangan meletus di Aek Sibulbulon.

Dalam pertempuran tersebut, Putri Lopian, anak Sisingamangaraja XII, tertembak musuh. Melihat putrinya tersungkur, raja langsung mendekap tubuh sang putri yang berlumuran darah.

Dalam momen itulah, Belanda langsung menembak Sisingamangarja XII.

“Di sini saya mencoba menggambarkan Putri Lopian yang tengah dipeluk oleh Sisingamangaraja XII. Sebuah penggambaran dalam kehidupan yang sangat menyentuh, di mana menunjukkan kencintaan Sisingamangaraja kepada anaknya,” terang Patar.

Satu Pahlawan
Dalam pergelaran bertajuk Coffee in Hero, yang berlangsung pada 5–12 November 2019, Komunitas Coffee Painter ingin mengajak publik untuk mengenal lebih dalam sosok para pahlawan nasional.

Ketua Komunitas Coffee Painter Jan Praba mengatakan para seniman diwajibkan untuk melukis satu pahlawan dan tidak boleh sama. Hal itu untuk menghindari pengulangan objek lukisan dalam pameran tersebut.

Salah satu lukisan menggunakan ampas kopi buatan Komunitas Coffee Painter yang dipamerkan di Museum Basoeki Abdullah, Jakarta pada 5-12 November 2019./Bisnis-Dionisio Damara

"Banyak pahlawan nasional yang tidak [terasa] familier karena kurang publikasi. Dengan cara ini, diharapkan wajah-wajah pahlawan yang tidak populer akan muncul dan dikenal oleh masyarakat," jelasnya.

Selain itu, lanjut Jan, para pelukis juga diwajibkan untuk benar-benar mengenal sosok pahlawan yang dilukis, agar para seniman lebih mudah menjelaskan jika ada pertanyaan dari pengunjung terkait objek lukisannya.

Sementara itu, Kepala Museum Basoeki Abdullah Maeva Salma menyampaikan pergelaran kolaborasi ini juga dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, yang jatuh setiap 10 November.

"Menurut saya, pameran ini adalah pameran lukisan wajah pahlawan dengan media kopi di atas kanvas yang pertama dengan peserta terbanyak," ungkapnya.

Salma menambahkan pameran ini juga selaras dengan semboyan presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi, pahlawan nasional.

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top