In the Name of the Father: Visualisasi Kisah Pilu Anak-Anak yang Lahir dari Pemerkosaan

Perempuan yang diperkosa dan anak yang dilahirkannya kerap didiskriminasi dan ditindas oleh masyarakat yang sangat patriarki. Antara 25.000 hingga 50.000 perempuan dan anak perempuan diyakini diperkosa oleh tentara musuh selama perang Bosnia.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  05:29 WIB
In the Name of the Father: Visualisasi Kisah Pilu Anak-Anak yang Lahir dari Pemerkosaan
Ilustrasi pelecehan seksual. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -  Kisah pilu anak-anak yang lahir dari pemerkosaan saat perang Bosnia pada era 90'an divisualisasikan dalam pertunjukkan teaterikal bertajuk "In the Name of the Father". Drama yang diproduksi oleh kolaborasi Austria-Bosnia, di Sarajevo, Senin (16/10/2019).

Perempuan yang diperkosa dan anak yang dilahirkannya kerap didiskriminasi dan ditindas oleh masyarakat yang sangat patriarki. Antara 25.000 hingga 50.000 perempuan dan anak perempuan diyakini diperkosa oleh tentara musuh selama perang Bosnia. Bahkan, tidak pernah diketahui pasti berapa banyak anak yang dilahirkan oleh mereka.

Ajna Jusic menjadi bayi pertama yang didaftarkan sebagai lahir dari perkosaan selama perang Bosnia pada 1990-an, menceritakan kisah pilu tersebut kepada penonton pertunjukkan.

"Saya pikir ibu saya membenci saya, karena saya menjadi bagian dari pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya," ujarnya dalam pertunjukkan seperti dikutip dari Reuters, Rabu (16/10/2019).

Ibu Jusic diperkosa pada 1993 oleh seorang tentara musuh di sebuah kota kecil di Bosnia tengah. Kemudian, dia dikirim oleh orang tuanya ke tempat penampungan bagi para korban kekerasan seksual masa perang untuk melahirkan. Di sanalah Jusic lahir dan terdaftar sebagai anak yang lahir dari pemerkosaan.

Anak-anak yang lahir dari pemerkosaan, sebagian besar ditinggalkan di panti asuhan tempat asal mereka atau disembunyikan. Mereka pun dikenal sebagai 'anak-anak yang tak terlihat'.

Dalam pertunjukkan itu, suara-suara 'anak-anak tak terlihat' itu terdengar dari pengeras suara, ketika penari mengekspresikan perasaan takut, dipaksa diam, malu, bersalah, dan kacau.

"Kami berusaha menunjukkan bahwa pemerkosaan adalah trauma bagi semua orang dan tidak bisa dilihat melalui kacamata etnis," kata Jusic.

Bersama asosiasi bernama “Forgotten Children of War” yang dibentuknya, Jusic berharap bisa membantu anak-anak yang lahir dari pemerkosaan menghadapi trauma, dan menemukan cara untuk berbicara kepada publik melalui berbagai bentuk seni.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pemerkosaan

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top