Investor Himbau Korporasi Bebas CO2 pada 2050

Kelompok dengan nilai aset (AUM) sebesar US$35 triliun yang dikenal sebagai Climate Action 100+ ini, mengatakan hanya 9% dari perusahaan paling berpolusi yang sudah menyelaraskan kegiatan operasional mereka dengan target pemanasan global di bawah 2 derajat celcius.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  16:03 WIB
Investor Himbau Korporasi Bebas CO2 pada 2050
Ilustrasi perubahan iklim - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Sebuah pendekatan yang dilakukan oleh inisiatif investor global terbesar menunjukkan bahwa sebagian besar dari perusahaan paling berpolusi belum menyelaraskan operasinya dengan perjanjian Paris terkait perubahan iklim.

Kelompok dengan nilai aset (AUM) sebesar US$35 triliun yang dikenal sebagai Climate Action 100+ ini, mengatakan hanya 9% dari perusahaan paling berpolusi yang sudah menyelaraskan kegiatan operasional mereka dengan target pemanasan global di bawah 2 derajat celcius.

Kelompok ini menghimbau agar para anggotanya dapat mendorong dewan perusahaan untuk melakukan perubahan dan berupaya mengurangi emisi bersih mereka menjadi nol pada 2050.

Climate Action 100+ telah mendorong beberapa perusahaan, termasuk perusahaan minyak Royal Dutch Shell Plc. dan BP Plc., untuk bertindak lebih agresif dalam memotong emisi karbon.

Menurut wakil ketua inisiatif tersebut, Stephani Pfeifer, keterlibatan investor melalui Climate Action 100+ memainkan peran utama dalam mengubah sikap perusahaan terhadap perubahan iklim.

"Kita sekarang harus menjaga momentum yang telah dicapai hingga saat ini untuk mengatasi krisis iklim," kata Pfeifer, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (3/10/2019).

Kelompok investor global yang dibentuk pada 2017 ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi perusahaan penghasil emisi terbesar dan kemudian menggunakan kemampuan para anggotanya untuk melobi direksi, mengajukan rapat umum pemegang saham dan memberikan suara pada pertemuan umum tahunan untuk mendorong perusahaan turut aktif menyikapi perubahan iklim.

Sejumlah anggota kelompok ini telah mencoba melakukan pendekatan dengan perusahaan tambang yang keras kepala, Glencore Plc., untuk membatasi produksi batu bara termal.

Mereka juga berhasil menggerakkan perusahaan pelayaran raksasa, AP Moller-Maersk A/S, untuk berkomitmen pada netralitas karbon pada 2050.

Namun, ada kelemahan yang cukup mengganggu dalam proses pendekatan ke korporasi untuk menyampaikan masalah perubahan iklim yang perlu ditangani.

Selain jumlah perusahaan yang sangat banyak dan akan mendorong pemanasan global melampaui batas target 2 derajat celcius dengan strategi bisnis saat ini, beberapa perusahaan juga mungkin melobi pemerintah untuk menghindari kebijakan iklim yang bermanfaat.

Menurut data yang dikumpulkan Climate Action 100+, hanya ada 8% dari keseluruhan 161 perusaaan yang menjadi target mereka, yang bekerja dengan mempertimbangkan dampak perubahan iklim.

Perusahaan memang tidak berkewajiban untuk mengikuti saran dari organisasi tersebut, tetapi bersikap acuh terhadap ajakan sebuah kelompok dengan nilai aset yang besar berisiko menimbulkan sengketa publik yang memalukan.

"Kami telah berbicara dengan dewan direksi dan para manajer di BP selama kurang lebih empat tahun terkait strategi bisnis yang lebih baik dan sejalan dengan perjanjian Paris," ujar Bruce Duguid, kepala kepengurusan di Hermes EOS, yang merupakan anggota Climate Action 100+.

Proses diskusi yang terlampau lama mendorong Duguid untuk mengajukan rapat umum pemegang saham yang mendesak perusahaan untuk mengungkapkan setiap keputusan investasi modal agar selaras dengan misi perjanjian iklim global.

Meskipun BP setuju untuk menjadi lebih transparan dan bersih secaara emisi, perwakilan dari beberapa pemegang saham terbesarnya, yang juga merupakan anggota inisiasi ini, seperti Legal & General Investment Management Holdings Ltd. dan Aviva Plc., secara terbuka menegur perusahaan karena bergerak lambat.

Climate Action 100+ tidak hanyak menargetkan perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas.

Mereka bergerak lebih kepada tokoh atau merek yang berpengaruh terkait isu emisi global, termasuk perusahaan di sektor otomotif, utilitas dan bisnis produk konsumen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top