Karhutla Makin Marak, BNPB Perbaiki Metode Pencegahan

Modifikasi cuaca dan water bombing tidak dapat menyelesaikan persoalan karhutla di dalam negeri. Hal itu membuat BNPB memperbaiki dan mengutamakan langkah pencegahan agar karhutla tidak terulang.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 24 September 2019  |  17:31 WIB
Karhutla Makin Marak, BNPB Perbaiki Metode Pencegahan
Foto udara Jalan Lintas Jambi-Tanjungjabung Timur yang diselimuti kabut asap karhutla di Puding, Kumpeh Ilir, Muarojambi, Jambi, Minggu (22/9/2019). Kabupaten Muarojambi masih diselimuti kabut asap karhutla yang terus memburuk dalam beberapa hari terakhir, sementara upaya pemadaman dari sejumlah pihak masih terus diupayakan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana akan memperbaiki langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, agar tidak terjadi setiap tahun.

Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan bahwa modifikasi cuaca dan water bombing tidak dapat menyelesaikan persoalan karhutla di dalam negeri. Hal itu membuat BNPB memperbaiki dan mengutamakan langkah pencegahan agar karhutla tidak terulang.

“Strategi selanjutnya adalah menggalakkan sosialisasi kepada masyarakat secara langsung. Libatkan pemuka agama dan sebagainya, agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar,” katanya melalui keterangan resmi, Selasa (24/9/2019).

Doni menuturkan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah telah banyak merugikan masyarakat. Kerugian yang langsung dirasakan masyarakat antara lain memburuknya Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di sekitar wilayah karhutla.

Dia mencontohkan ISPU di Jambi saat ini lebih buruk dibandingkan dengan 2015 karena asap karhutla yang pekat.

“Lebih dari 5.000 hektare lahan di Jambi adalah gambut yang kedalamannya cukup dalam. Di beberapa tempat, api karhutla berada di dalam tanah dengan kedalaman 5 meter,” ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ISPU (partikulat PM-10) tertinggi pada 2015 mencapai 173 atau pada level tidak sehat, dan pada 2019 mencapai 411 (level berbahaya).

Doni juga meminta semua pemangku kepentingan ikut turun dan memantau langsung situasi di lapangan, agar tidak ada lagi titik api baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Karhutla

Editor : Lili Sunardi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top