Bela Praktik Facebook, Mark Zuckerberg Ketemu Trump

CEO Facebook Mark Zuckerberg menyambangi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (19/9/2019), di tengah upayanya membela praktik-praktik platform media sosial.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 September 2019  |  08:26 WIB
Bela Praktik Facebook, Mark Zuckerberg Ketemu Trump
Mark Zuckerberg menghadap Kongres untuk memberikan penjelasan mengenai kasus kebocoran data 87 juta pengguna Facebook 10 April 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – CEO Facebook Mark Zuckerberg menyambangi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (19/9/2019), di tengah upayanya membela praktik-praktik platform media sosial.

Menurut juru bicara Facebook, pertemuan antara Zuckerberg dan Trump di Gedung Putih berlangsung konstruktif. Menantu sekaligus penasihat senior Trump, Jared Kushner, dan direktur media sosial Gedung Putih Dan Scavino turut menghadiri pertemuan itu.

Melalui akun Twitter miliknya, Trump kemudian menuangkan kesan positifnya setelah bertemu dengan Zuckerberg.

Bagaimanapun, pertemuan itu memiliki catatan berbeda ketika Zuckerberg berdebat dengan Senator Partai Republik Josh Hawley soal upaya Facebook dalam menjaga privasi dan data pengguna.

"Saya berkata kepadanya, ‘buktikan bahwa Anda serius tentang data, menjual WhatsApp, dan menjual Instagram.' Itulah yang harus mereka lakukan,” ungkap Hawley kepada wartawan setelah bertemu dengan Zuckerberg di Washington.

“Saya pikir bisa dikatakan ia (Zuckerberg) tidak menerima saran-saran itu,” tambahnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Zuckerberg berada di ibu kota negara itu untuk membela praktik-praktik perusahaannya terhadap beberapa kritik pedas yang menyampaikan keprihatinan bahwa ia tidak mengambil tindakan cukup kuat untuk mencegah manipulasi pemilih di panggung menjelang pemilihan presiden 2020.

Tak hanya itu, ia juga dihadapkan dengan kritik soal penanganan perusahaan terhadap data pengguna dan pembatasan kekerasan di dunia maya.

Hawley mengatakan telah melakukan "diskusi yang sangat terbuka” dengan Zuckerberg mengenai catatan perusahaan tentang privasi dan bias politik. Menurutnya, Facebook harus tunduk pada audit independen ulasan kontennya.

Hawley juga mengungkapkan telah menekan Zuckerberg untuk membangun "dinding" antara Facebook dan platform lainnya, tetapi Zuckerberg tidak bersedia.

Facebook diketahui sedang membuat dewan pengawas untuk meninjau konten-konten apa yang harus diawasi dan baru saja merilis sebuah carter yang menguraikan lebih detail tentang grup ini.

Kunjungan Zuckerberg ke Gedung Putih juga diisi dengan makan malam bersama Senator Mark Warner dari Komite Intelijen dan anggota-anggota parlemen lain.

“Saya pikir dia (Zuckerberg) menyadari bahwa status quo dan saat-saat yang liar sudah berakhir,” terang Warner.

Facebook tengah berjuang melawan kritik dari anggota parlemen atas penanganannya terhadap informasi pribadi pengguna, proliferasi konten kekerasan, dan campur tangan oleh pihak asing dalam pemilu.

Menanggapi tindak pengawasan yang semakin meningkat, Zuckerberg telah menyerukan diberlakukannya peraturan dasar yang mengatur konten berbahaya secara online.

Anggota parlemen dari Demokrat telah mengkritik penanganan konten politik Facebook, termasuk cara operator asing menggunakan platform ini untuk menabur perselisihan dalam kehidupan publik Amerika.

Laporan yang dirilis oleh Penasihat Khusus Robert Mueller menggambarkan bagaimana entitas Rusia melakukan kampanye media sosial yang memihak kandidat presiden Donald Trump dan meremehkan Hillary Clinton dalam kancah pilpres AS 2016.

Sementara itu, Trump, bersama dengan anggota Partai Republik lainnya, telah menuduh platform teknologi besar seperti Google, Facebook, dan Twitter Alphabet Inc. memiliki bias anti-konservatif.

Juru bicara Facebook, Andy Stone, mengklarifikasi bahwa Zuckerberg mengatakan kepada Hawley bahwa ada bias dalam proses pengecekan fakta, yang mencakup mitra pihak ketiga, bukan di Facebook itu sendiri.

"Zuckerberg juga mengatakan kepada Hawley bahwa selama bertahun-tahun Silicon Valley telah berjuang dengan persepsi bias dan bahwa industri perlu menyadari masalah ini," tambah Stone.

Perusahaan sendiri tidak menemukan bukti bias anti-konservatif yang sistemik pada Facebook.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump, facebook

Editor : Renat Sofie Andriani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top