Gelombang Stimulus Moneter Global Dimulai

Sejumlah bank sentral global hampir secara serentak memberlakukan kebijakan moneter yang lebih longgar di tengah tantangan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 19 September 2019  |  19:31 WIB
Gelombang Stimulus Moneter Global Dimulai
Bank of Japan - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank sentral global hampir secara serentak memberlakukan kebijakan moneter yang lebih longgar di tengah tantangan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.

Bank Sentral Eropa (ECB) lebih dulu melakukan pelonggaran kebijakan moneter dengan memangkas suku bunga dari -0,5% menjadi -0,4% dan berencana untuk membeli obligasi sebesar 20 miliar euro mulai 1 November.

Untuk saat ini ECB akan mempertahankan suku bunga mereka di posisi rendah sampai prospek inflasi mendekati atau mencapai target 2%, setelah sebelumnya memperkirakan bahwa beban pinjaman tidak akan berubah sampai dengan pertengahan 2020.

Pengumuman paket stimulus baru menunjukkan perubahan pendirian bank sentral hanya 9 bulan setelah ECB mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan memberlakukan kebijakan yang lebih longgar.

Untuk saat ini, inflasi zona euro bergerak hanya mencapai setengah dari target di bawah 2%, sementara risiko sektor manufaktur yang terkontraksi berpotensi menyebar ke indikator ekonomi lainnya.

Gelombang pelonggaran kebijakan moneter dilanjutkan dengan the Fed yang memutuskan untuk sekali lagi memangkas suku bunganya sebesar seperempat poin menjadi 1,75% - 2,00%.

Selain memangkas suku bunga, the Fed diketahui melakukan operasi repo overnight dengan menambahkan likuiditas sementara untuk memulihkan kondisi pada sistem perbankan.

Tindakan terbaru ini mengikuti langkah the Fed dengan memangkas suku bunga yang dibayarkan pada kelebihan cadangan bank (IOER), upaya lain yang digunakan untuk memadamkan tekanan pasar uang.

"Kami mengambil langkah ini untuk membantu menjaga ekonomi AS tetap kuat dalam menghadapi beberapa perkembangan penting dan untuk menyediakan jaminan terhadap risiko yang berkelanjutan," kata Gubernur the Fed Jerome Powell, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (19/9).

Pada saat yang sama, mengikuti jejak the Fed, Otoritas Moneter Hong Kong, Bank Indonesia, serta Bank Sentral Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memangkas suku bunga acuannya.

Otoritas Moneter Hong Kong memangkas suku bunga acuan menjadi 2,25% dari 2,5%, solusi yang harus diambil setelah mata uangnya melemah dan tidak dapat dipaksakan untuk terus membebani ekonomi yang melemah.

Meski demikian, langkah ini mungkin tidak akan segera diikuti oleh penurunan suku bunga kredit untuk konsumen bisnis dan rumah tangga.

Kepala HKMA Norman Chan mengatakan bank-bank lokal tidak perlu mengikuti the Fed dalam penurunan suku bunga, karena mereka memiliki pertimbangan pendanaan sendiri. HSBC Holdings Plc dan Bank of East Asia Ltd baru-baru ini menaikkan suku bunga pinjaman hipotek.

Adapun, bank sentral Jepang dan Inggris memutuskan untuk mempertahankan posisi suku bunga acuan mereka.

BOJ memilih untuk tetap menjaga suku bunga acuan di bawah nol, yakni sebesar -0,1%, dan menyerukan pemeriksaan ulang terhadap kondisi harga dan ekonomi menjelang pertemuan Oktober.

Bank sentral mengatkaan bahwa mereka perlu memperhatikan risiko kehilangan momentum terhadap target inflasi 2%.

Sementara itu di Inggris, Gubernur BOE Mark Caney mempertahankan suku bunga pada 0,75%.

BOE mengatakan bahwa inflasi mungkin akan bergerak lebih lemah dari yang diharapkan jika ketidakpastian Brexit berlanjut.

"Meningkatnya ketidakpastian Brexit berarti ekonomi dapat mengarah ke berbagai jalur berbeda selama beberapa tahun ke depan," seperti dikutip melalui risalah pertemuan BOE.

Tanggapan BOE terhadap eksekusi penarikan diri Inggris dari Uni Eropa akan tergantung pada keseimbangan efek Brexit terhadap permintaan, penawaran, dan nilai tukar pound sterling.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ecb, bank of japan

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top