Survei LIPI Sebut Pemilu 2019 Menyulitkan dan Pemilih Terfokus di Pilpres

LIPI melakukan dua kegiatan sekaligus dalam survei ini yaitu survei publik dan survei terhadap elit dan tokoh. Sampel survei publik berjumlah 1.500 responden dengan margin error sebesar 2,53 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  16:39 WIB
Survei LIPI Sebut Pemilu 2019 Menyulitkan dan Pemilih Terfokus di Pilpres
Warga menggunakan hak pilihnya saat Pemilu 2019, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/4/2019). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia mengeluarkan survei pascapemilu serentak 2019 di Gedung Widya Graha, LIPI di Jakarta, Rabu (28/8/2019). Hasilnya mayoritas responden menghendaki sistem pemilihan umum diubah pada kontestasi berikutnya karena terlalu sulit dalam pemilihan.

LIPI melakukan dua kegiatan sekaligus dalam survei ini yaitu survei publik dan survei terhadap elit dan tokoh. Sampel survei publik berjumlah 1.500 responden dengan margin error sebesar 2,53 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Sedangkan survei elit dan tokoh dilakukan secara wawancara terhadap 119 responden dari berbagai kalangan mulai akademisi, politisi partai politik, jurnalis senior, pengurus asosiasi pengusaha, tokoh agamq, budayawan, tokoh gerakan perempuan, NGO dan pemuda di lima kota.

Adapun survei publik dilakukan pada 27 April - 5 Mei 2019. Sementara itu, pengumpulan survei elit dan tokoh dikumpulkan mulai 27 Juni - 8 Agustus 2019.

Hasilnya, 74 persen responden publik mengaku bahwa pemilu serentak atau mencoblos lima surat suara, lebih menyulitkan bagi pemilih dibandingkan jika Pemilu legislatif dan Pilpres diselenggarakan secara terpisah. Hanya 24 persen yang menyatakan sebaliknya.

Di sisi lain, responden elit ataupun tokoh yang setuju bahwa pemilu serentak 2019 lebih menyulitkan dibandingkan dengan pemilihan sebelumnya mencapai 86 persen. Hanya sekitar 14 persen yang menganggap skema Pemilu serentak tahun ini tidak menyulitkan pemilih.

Selain itu, dalam survei elit atau tokoh, sebanyak 82 persen setuju bahwa pemilu serentak perlu diubah. Selebihnya memilih tidak setuju agar sistem yang pertama kali berlangsung tahun ini diubah.

Saat ditanya tentang sistem apa yang sebaiknya diterapkan untuk mengganti sistem Pemilu serentak 2019, responden tokoh dan elit agak terpecah. 46,9 persen memilih Pemilu terpisah antara pemilihan anggota legislatif dengan Pemilu eksekutif. Selebihnya 34,7 persen memilih pemilu terpisah antara Pemilu pada tingkat nasional dengan Pemilu pada tingkat lokal.

Selanjutnya 6,1 persen memilih Pemilu terpisah seluruhnya antara Pilpres, Pileg dan Pilkada. Adapun lainnya mencapai 10,2 persen.

Tim Koordinator Survei Prioritas LIPI Wawan Ichwanudin mengatakan saat melakukan survei di lapangan mayoritas responden elit atau tokoh atau mencapai 96 persen setuju bahwa pada penyelenggaraan Pemilu serentak 2019 lalu, pemilih lebih banyak terfokus pada kontestasi Pilpres dibandingkan dengan Pileg di semua tingkatan.

"Terlepas dari latar belakangn responden, sebagian mengatakan adalah ajang Pilpres, lainnya hanya plus saja. Mereka fokus dengan Pilpres," katanya di Gedung Widya Graha LIPI, Rabu (28/8/2019).

Respon para elit dan tokoh itu diperkuat oleh responden publik di mana 77 persen diantaranya mengaku bahwa dari lima surat suara pada Pemilu 2019 lalu, surat suara Pilpres adalah yanh pertama kali dicoblos.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, prabowo subianto, Pilpres 2019

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top