Thailand Berambisi Jadi Pusat Perdagangan Listrik di Asia Tenggara

Thailand menghidupkan kembali ambisinya untuk membangun jaringan listrik super di Asia Tenggara dengan menjadi pusat perdagangan listrik di kawasan tersebut.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  15:50 WIB
Thailand Berambisi Jadi Pusat Perdagangan Listrik di Asia Tenggara
Bendera Thailand - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Thailand menghidupkan kembali ambisinya untuk membangun jaringan listrik super di Asia Tenggara dengan menjadi pusat perdagangan listrik di kawasan tersebut.

Direktur Jenderal Kantor Kebijakan dan Perencanaan Energi Thailand Wattanapong Kurovat mengatakan, mereka akan menambah tiga kali lipat jumlah listrik dari Laos yang dijual kembali ke Malaysia.

Pada saat yang sama pemerintah Thailand juga mendorong peningkatan infrastruktur yang membentang dari Kamboja ke Myanmar yang diperlukan untuk perdagangan listrik lintas batas.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Menteri Energi Thailand Sontirat Sontijirawong untuk membuat sistem tenaga Thailand lebih bersih, lebih murah dan lebih efisien.

Seperti dilansir melalui Bloomberg, Wattanapogng menggambarkan sistem perdagangan yang sederhana.

Thailand akan membeli listrik dalam jumlah banyak untuk jaringan nasionalnya dari Laos, yang menghasilkan pasokan listrik lebih dari cukup melalui pembangkit yang ada di bendungan di sepanjang Sungai Mekong dan anak-anak sungainya.

Kelebihan pasokan listrik tersebut kemudian dapat dijual ke negara lain seperti Malaysia, Kamboja atau Myanmar.

"Kami berusaha bergerak cepat untuk menjadi pusat jaringan listrik di kawasan ini. Kami sudah memiliki kapasitas dan infrastruktur untuk mendukung visi menjadi hub regional," ujar Wattanapong dalam sebuah wawancara di Bangkok, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (26/8/2019).

Gagasan menghubungkan pembangkit listrik dan pelanggan di seluruh Asia Tenggara telah diupayakan selama lebih dari 20 tahun, tetapi terhalang oleh berbagai masalah termasuk kurangnya koordinasi pemerintah dan pendanaan infrastruktur.

Keberadaan jaringan tenaga listrik internasional jarang ada di luar Eropa dan membutuhkan penyelesaian hambatan teknis dan hukum di samping membangun infrastruktur yang mahal.

"Jika berhasil, Thailand dapat menikmati sejumlah manfaat termasuk peningkatan keamanan energi dan peluang untuk mengembangkan sumber daya terbarukan yang belum dimanfaatkan," menurut Badan Energi Internasional (IEA).

Saat ini, Thailand telah memiliki interkoneksi jaringan dengan Laos dan Malaysia.

Menurut Wattanapong, sejak tahun lalu Malaysia telah membeli 100 megawatt dari Laos melalui Thailand dan berupaya meningkatkan volumenya menjadi 300 megawatt.

Di samping itu, kota-kota perbatasan di Kamboja dan Myanmar telah membeli sejumlah kecil listrik dari Thailand, tetapi peningkatan infrastruktur diperlukan untuk mencapai skala yang sebanding dengan koneksi dengan Laos dan Malaysia.

Menjadi hub di regional Asia Tenggara akan membawa banyak manfaat bagi Thailand.

Negeri seribu pagoda itu dapat memperoleh penghasilan tambahan dari mentransmisikan listrik melalui jaringannya, mengatasi kelebihan kapasitas, dan memanfaatkan infrastruktur dan pembangkit listrik yang ada dengan lebih baik.

Dengan menggunakan jaringannya lebih efisien, biaya listrik di Thailand akan lebih murah dalam jangka panjang.

Interkoneksi yang ditingkatkan juga dapat membenarkan pembangunan proyek-proyek besar terbarukan di negara-negara berkembang yang sebaliknya tidak akan memiliki permintaan untuk menggunakannya, seperti tenaga air di Laos atau tenaga angin di Vietnam,

Menurut laporan IEA tahun 2017, interkoneksi yang ditingkatkan juga dapat mendukung pembangunan proyek-proyek besar energi terbarukan yang sebelumnya bahkan tidak diminati di negara-negara berkembang. Salah satunya adalah pembangunan pembangkit tenaga air di Laos atau pembangkit tenaga angin di Vietnam.

Aanalis BNEF yang meliput pasar tenaga listrik di Asia Tenggara, Caroline Chua, mengatakan bahwa dorongan Thailand untuk perdagangan energi regional dapat menjadi langkah peningkatan keamanan pasokan dan ketahanan sistem.

Terutama karena penurunan biaya dan target pemerintah yang lebih tinggi meningkatkan volume pembangkit energi terbarukan di kawasan Asean.

“Namun, untuk meningkatkan interkoneksi akan dibutuhkan harmonisasi regulasi lebih lanjut dan investasi infrastruktur jaringan yang tidak murah," ungkapnya.

Sementara itu, menteri baru Thailand ingin merevisi Rencana Pengembangan Daya, pedoman energi nasional, dan itu bisa berarti akan ada lebih banyak energi terbarukan dan listrik dari generator kecil.

Menurut rencana tersebut, sampai dengan 2037 diproyeksikan sekitar seperempat dari listrik Thailand akan berasal dari produsen listrik berskala kecil.

Sebagian besar dari mereka akan menghasilkan listrik dari biomassa dan pembangkit tenaga surya untuk digunakan masyarakat, dan menjual kelebihan daya ke negara lain yang terhubung dalam jaringan.

Thailand juga akan menggandakan penggunaan energi terbarukan dan mengurangi produksi listrik yang dihasilkan dari batu bara dan gas alam, meskipun gas alam akan tetap menjadi sumber energi terbesar di negara itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
thailand

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top