Ketidakpastian Perselisihan Korea dan Jepang Terus Meningkat

Perselisihan yang meningkat antara Korea Selatan dan Jepang telah meningkatkan kekhawatiran tentang dampak apa yang dapat menimpa rantai pasokan global, pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  11:49 WIB
Ketidakpastian Perselisihan Korea dan Jepang Terus Meningkat
Perdana Menteri Shinzo Abe dan Presiden Moon Jae/in di Korea

Bisnis.com, JAKARTA -- Perselisihan yang meningkat antara Korea Selatan dan Jepang telah meningkatkan kekhawatiran tentang dampak apa yang dapat menimpa rantai pasokan global, pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi.

Hubungan diplomatis kedua negara yang meregang sejak keputusan Mahkamah Agung Korea Selatan terkait isu di era kolonial terus mengembang selama 2 bulan terakhir dan terus memburuk.

Keadaan telah berubah menjadi lebih parah setelah Korea Selatan menarik diri dari pakta pertukaran informasi intelijen dengan Jepang.

Kebijakan yang disampaikan pekan lalu melemahkan won, sedangkan saham pertahanan Jepang menguat.

"Tampaknya ini akan menjadi sinyal bahwa konflik Korea-Jepang akan berlanjut. Kondisi ini hanya akan menambah ketidakpastian terhadap pasar," ujar Yoon Joonwon, manajer keuangan di HDC Asset Management Seoul, seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (25/8/2019).

Sebagai ekonomi yang memiliki pengaruh terhadap pasar global, perselisihan yang memanas tidak hanya akan mempengaruhi hubungan diplomatis kedua negara.

Industri teknologi global sedang terus mengawasi perselisihan dengan cermat setelah Jepang membatasi ekspor bahan-bahan dasar ke pabrik semikonduktor dan display komputer Korea Selatan.

Langkah ini dapat mengacaukan rantai pasokan bagi sebagian besar produk mulai dari iPhone Apple hingga laptop Dell.

Samsung Electronics Co, pembuat chip terbesar di dunia, sedang mencoba untuk mendiversifikasi pemasoknya, tetapi investor tetap khawatir. Saham korporasi telah merosot sekitar 6% sejak awal Juli.

Bagi perusahaan Jepang, boikot oleh konsumen Korea Selatan menimbulkan ancaman yang lebih besar.

Penjualan mobil Jepang di Korea Selatan anjlok 32% pada Juli dari bulan sebelumnya, penjualan bir dari produsen seperti Asahi Group Holdings Ltd. dilaporkan menurun 40%; dan Fast Retailing Co. mengatakan bahwa toko-toko Uniqlo di Korea Selatan turut terkena dampak boikot.

Di samping itu, jumlah warga Korea Selatan yang mengunjungi Jepang merosot 7,6% pada Juli, pertanda buruk bagi agen perjalanan dan operator toko bebas pajak.

Meski demikian, ada sejumlah pihak yang justru menerima manfaat di tengah perusahaan lain yang kesulitan. Salah satunya termasuk Soulbrain Co. asal Korea Selatan, produsen salah satu bahan baku yang terkena dampak pembatasan ekspor Jepang.

Saham Soulbrain dilaporkan telah melonjak lebih dari 50% sejak awal Juli di tengah harapan jumlah pesanan yang melimpah dari perusahaan teknologi seperti Samsung dan SK Hynix Inc., perusahaan besar pembuat chip asal Korea lainnya.

Adapun, saham perusahaan pertahanan Jepang termasuk Ishikawa Seisakusho Ltd. dan Hosoya Pyro-Engineering Co. melonjak lebih dari 10% dalam perdagangan intraday pada Jumat (23/8/2019).

Bagi pasar, perselisihan ini telah menambah daftar panjang tantangan yang harus dihadapi pasar saham Korea Selatan mulai dari perang dagang AS-China hingga kekhawatiran yang meningkat terkait pertumbuhan global.

Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, turun sekitar 8% sejak ketegangan meningkat pada awal Juli, salah satu penurunan terbesar di seluruh dunia. Pada saat yang sama won telah melemah sekitar 4% terhadap dolar AS.

Pasar keuangan Jepang mampu bertahan lebih baik, di mana Topix mengalami kerugian sekitar 5%. Yen, yang dianggap sebagai mata uang safe haven selama gejolak pasar global tercatat menguat sekitar 2% terhadap greenback.

Beberapa investor melihat peluang di tengah risiko volatilitas.

NH-Amundi Asset Management, yang mengelola dana sekitar 40 triliun won atau senilai US$33 miliar, telah meluncurkan dana ekuitas Korea yang ditujukan untuk investasi pada pemasok lokal yang mungkin mendapat manfaat dari pembatasan ekspor Jepang.

Bagi ekonomi secara umum, dampaknya terhadap pertumbuhan masih terbatas sejauh ini, tetapi potensi gangguan sangat signifikan.

Nenurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, Jepang dan Korea Selatan masing-masing merupakan mitra dagang terbesar ketiga di dunia.

Menurut S&P Global Ratings beberapa waktu lalu, ketidaksepakatan antara Jepang dan Korea tidak akan berdampak langsung pada peringkat kredit.

"Namun seiring waktu, kondisi ini dapat melemahkan potensi pertumbuhan ekonomi masing-masing negara dan dunia, serta melemahkan dukungan untuk kerangka kerja perdagangan multilateral," tulis analis S&P.

Bulan lalu, Bank Sentral Korea telah memangkas suku bunga acuan dan mengatakan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan stimulus moneter yang lebih banyak guna mengurangi dampak dari ketegangan perdagangan.

Sementara itu, sejumlah analis yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Korea akan mengalami perlambatan menjadi hanya sekitar 2% untuk tahun ini.

Proyeksi tersebut bahkan masih terlalu optimistis.

Mengingat bahwa sikap keras dari kedua belah pihak telah memicu dukungan publik untuk Presiden Moon Jae-in di Korea dan Perdana Menteri Shinzo Abe di Jepang, konflik tidak mungkin berakhir dalam waktu dekat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korea selatan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top