Jepang Inginkan Kemajuan Perundingan Perselisihan dengan Korsel

Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono pada Rabu (21/8/2019) mengatakan pihaknya menantikan menuju penyelesaian perselisihan dengan Korea Selatan atas kompensasi pekerja Korea di masa pendudukan Jepang yang telah merenggangkan hubungan antara dua AS ini.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  15:37 WIB
Jepang Inginkan Kemajuan Perundingan Perselisihan dengan Korsel
Warga Korea Selatan mengadakan unjuk rasa anti-Jepang di dekat kedutaan besar Jepang di Seoul, Korea Selatan, 3 Agustus 2019. - Reuters/Kim Hong/Ji

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono pada Rabu (21/8/2019) mengatakan pihaknya menantikan menuju penyelesaian perselisihan dengan Korea Selatan atas kompensasi pekerja Korea di masa pendudukan Jepang yang telah merenggangkan hubungan antara dua AS ini.

Setelah pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha di Beijing, Kono mengatakan Jepang menginginkan Seoul dan Tokyo untuk mempertahankan pakta intelijen militer yang terancam berakhir jika Korea Selatan memutuskan untuk tidak menggulirkannya bulan ini.

"Ini adalah kerangka kerja penting bagi AS, Jepang, dan Korea Selatan dan ... harus dipertahankan," kata Kono, seraya menambahkan bahwa ia telah membahas pakta intelijen dengan Kang, tetapi menolak untuk memberikan rincian.

Kono mengatakan kepada wartawan bahwa masalah terbesar antara Jepang dan Korsel adalah perselisihan mengenai kompensasi warga Korea yang bekerja paksa di pabrik dan tambang Jepang selama penjajahan Jepang di semenanjung Korea tahun 1910-1945. Kedua pihak berbagi pengakuan tentang perlunya menyelesaikan perselisihan, tambahnya.

"Dalam hal ini, saya ingin secara tegas membuat kemajuan ke arah penyelesaian (masalah ini). Saya sangat berharap kedua pihak dapat berunding," kata Kono, seperti dikutip Reuters.

Hubungan dua sekutu AS ini memburuk Oktober lalu setelah Mahkamah Agung Korea Selatan memerintahkan beberapa perusahaan Jepang untuk memberikan kompensasi kepada pekerja saat perang Korea.

Langkah tersebut kemudian dikecam oleh Jepang, yang mengatakan masalah itu telah diselesaikan dengan perjanjian 1965 untuk menormalisasi hubungan.

Perseteruan telah merambah ke perdagangan, setelah Jepang memperketat kontrol ekspor pada bahan-bahan baku penting bagi produsen chip Korsel dan kemudian menghapus Korsel dari daftar negara yang memenuhi syarat untuk ekspor jalur cepat

Korsel kemudian mengambil langkah serupa kepada Jepang.

Kono juga mendesak China dan Korsel untuk menghentikan pembatasan impor pada produk-produk dari daerah di sekitar lokasi bencana nuklir Fukushima Jepang, di mana tiga reaktor hancur setelah gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011.

Jepang mengatakan pihaknya akan meningkatkan pengujian radiasi dari beberapa makanan asal Jepang yang diimpor ke Korea Selatan, karena khawatir akan kemungkinan kontaminasi radioaktif dari reactor Fukushima.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, korea selatan

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top