Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perusahaan Energi China Tinggalkan Minyak Venezuela

Perusahaan energi terbesar China mundur dari pembelian langsung minyak mentah Venezuela karena pengatatan sanksi yang diberlakukan administrasi Trump terhadap negara Amerika Selatan tersebut.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 17 Agustus 2019  |  12:47 WIB
Kilang minyak di Puerto Cabello, Venezuela - Reuters/Edwin Montilva
Kilang minyak di Puerto Cabello, Venezuela - Reuters/Edwin Montilva

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan energi terbesar China mundur dari pembelian langsung minyak mentah Venezuela karena pengetatan sanksi administrasi yang diberlakukan Donald Trump terhadap negara Amerika Selatan tersebut.

Seperti dilansir melalui Bloomberg, beberapa sumber mengatakan bahwa China National Petroleum Corp telah membatalkan rencana untuk membeli sekitar 5 juta barel minyak Venezuela bulan ini setelah perintah eksekutif terbaru oleh Presiden Donald Trump.

CNPC bergabung dengan bank terbesar Turki, Ziraat Bank, yang memutuskan hubungannya dengan Bank Sentral Venezuela setelah sanksi AS berlaku.

Kebijakan ini merupakan kemunduran bagi Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang selama ini mengandalkan China dan Rusia untuk menjaga negara itu tetap berjalan di tengah krisis kemanusiaan, kekurangan pangan, dan hiperinflasi.

Pasca sanksi AS terhadap perusahaan milik negara Petroleos de Venezuela SA ditetapkan pada akhir Januari, China merupakan tujuan utama untuk minyak mentah Venezuela.

Negara tersebut kemungkinan akan kehabisan pilihan tanpa dibantu oleh CNPC untuk mengekspor minyak, sumber pendapatan utama bagi rezim Maduro.

"Tiga muatan kargo Agustus yang dibatalkan oleh anak perusahaan CNPC, PetroChina Co. Ltd., sejauh ini belum menarik pembeli lain," menurut laporan yang dikutip melalui Bloomberg, Sabtu (17/8).

Juru bicara PetroChina menolak mengomentari spekulasi pasar, mengutip kebijakan perusahaan.

Pada 5 Agustus, Trump menandatangani perintah eksekutif yakni pemberian sanksi kepada siapa pun yang memberikan dukungan kepada Maduro.

Sementara itu, Pemimpin oposisi Juan Guaido, yang diakui oleh pemerintahan Trump sebagai pemimpin negara, didukung oleh lebih dari 50 negara.

Namun, Mundurnya PetroChina tidak berarti China akan sepenuhnya berpaling dari minyak Venezuela.

"Perusahaan lain dapat terus memasok penyuling independen China yang dikenal sebagai teko penampung minyak mentah Amerika Selatan," ungkap seorang sumber yang familiar dengan isu ini.

China telah menjadi pendukung setia pemerintah Venezuela sejak pemberian pinjaman pertama untuk presiden Hugo Chavez.

Ekonomi terbesar kedua dunia itu telah meminjamkan US$50 miliar dalam dekade terakhir sebagai ganti minyak mentah Venezuela. China, bersama dengan Rusia, adalah salah satu dari 14 negara yang mendukung Maduro.

Menurut data yang dikumpulkan Bloomberg, ini akan menjadi yang pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade di mana PetroChina meninggalkan minyak mentah Venezuela.

Hingga tahun ini, China telah mengimpor 339.000 barel minyak Venezuela. Sebagian besar barel minyak datang melalui PetroChina, tetapi setelah sanksi AS, Rosneft Oil Co Rusia PJSC telah meningkatkan pasokan minyak Venezuela ke penyuling independen negara itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china venezuela
Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top