Perang Kurs Pacu Reli Obligasi Eropa

Ancaman yang meningkat dari perang mata uang global telah memacu reli obligasi Eropa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  16:38 WIB
Perang Kurs Pacu Reli Obligasi Eropa
Mata uang Euro - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Ancaman yang meningkat dari perang mata uang global telah memacu reli obligasi Eropa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di saat ketegangan perang dagang telah memicu arus modal berpindah ke aset teraman di zona euro, Bank Sentral Eropa (ECB) yang merupakan pembeli utama utang di kawasan ini tampaknya akan memiliki saingan, yakni Bank Sentral Swiss (SNB).

Perselisihan antara Amerika Serikat dan China yang menyebabkan gejolak pasar di seluruh dunia, justru telah menciptakan kondisi yang positif bagi franc Swiss, surga bagi para investor.

Namun, Commerzbank AG berpendapat bahwa reli mata uang Swiss tersebut ke level tertinggi dalam 2 tahun terakhir akan mengancam ambisi SNB untuk memacu inflasi.

"Pada saat yang sama bank sentral mungkin akan melakukan intervensi guna mengendalikan nilai tukar, dengan membeli euro, dan kemudian berinvestasi dalam obligasi daerah," tutur Commerzbank AG seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (7/8/2019).

Acuan (benchmark) imbal hasil Jerman telah merosot ke rekor terendah sebesar -0,55% pekan ini setelah AS secara resmi menyebut China sebagai manipulator mata uang, dalam tanggapan keras Washington atas sikap PBOC yang melemahkan yuan ke level terendah sejak 2008.

SNB mungkin sudah mulai melakukan intervensi terhadap franc.

Bank sentral Swiss tersebut tampaknya telah membeli mata uang asing lagi pekan lalu setelah meningkatnya ketegangan perdagangan mendorong nilai safe-franc Swiss lebih tinggi terhadap euro.

Menurut data yang diterbitkan Senin (5/8/2019), sight deposit, proxy untuk intervensi mata uang bank sentral, naik 1,6 miliar franc menjadi 582,7 miliar franc atau senilai US$598 miliar dalam pekan yang berakhir 2 Agustus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Perang Kurs

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top