Gerindra Beberkan Plus Minus Pemilu Sistem Terbuka dan Tertutup

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kembali mewacanakan perubahan sistem pemilu dari proporsional terbuka menjadi tertutup. Selama dua periode legislatif sebelumnya atau 10 tahun mereka mengajukan hal serupa tapi gagal lantaran kalah dukungan.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  18:07 WIB
Gerindra Beberkan Plus Minus Pemilu Sistem Terbuka dan Tertutup
Ahmad Riza Patria - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kembali mewacanakan perubahan sistem pemilu dari proporsional terbuka menjadi tertutup. Selama dua periode legislatif sebelumnya atau 10 tahun mereka mengajukan hal serupa tapi gagal lantaran kalah dukungan.

Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ahmad Riza Patria mengatakan kedua sistem tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Tentu setiap partai politik memiliki pandangan sendiri terkait mana yang lebih baik.

“Kalau pemikiran yang ingin sistem terbuka karena ini demokrasi ya bebas nomor urut 1 atau nomor terakhir. Siapa suara terbanyak dia yang menang,” katanya saat dihubungi, Selasa (6/8/2019).

Riza yang juga Ketua DPP Partai Gerindra menjelaskan bahwa sistem terbuka juga membuat pemilu lebih demokratis. Akan tetapi kekurangannya pengurus partai yang loyal dan berjuang demi partai bisa saja kalah karena kurang terkenal atau lain halnya.

Maraknya politik uang besar terjadi di sini meski sistem tertutup tidak dapat dipastikan tak ada.

Gerindra sendiri selama 10 tahun terakhir lebih memilih terbuka. Dengan sistem itu, semua kader bekerja keras untuk menaikkan elektabilitas partai agar rakyat memilih mereka.

Semua calon anggota legislatif memiliki peluang sama besarnya. Ini tentu tidak terjadi jika menggunakan sistem tertutup.

Petinggi partai akan memilih pengurus atau orang yang dekat dengannya. Dengan begitu, para calon berpikir instan bagaimana bisa merebut hati si pengambil kebijakan.

“Tapi kalau terbuka tidak apa-apa tidak dapat nomor 1. Yang penting dia merasa kalau punya konstituen, jaringan, dan bekerja dia berkesempatan untuk duduk di parlemen,” jelas Riza.

Riza menuturkan bahwa Gerindra belum memutuskan apakah akan sepaham dengan usulan yang sama dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini. Mereka akan membahas lebih dalam.

Alasannya masih fokus pada evaluasi pemilu 2019. Gerindra melihat banyak yang perlu diperbaiki seperti banyak petugas pemilu meninggal dunia, politik uang, dan penggunaan pejabat negara yang tinggi.

“Nah, salah satunya adalah dengan memisahkan pileg dan pilpres. Ini penyebabnya karena pemilu serentak. Kalau dipisah, akan berkurang nanti penggunaan kewenangan kekuasaan,” ucap Riza.

Sistem proporsional terbuka adalah sistem perwakilan yang memungkinkan pemilih turut serta dalam menentuan para anggota DPR melalui pemilihan. Berbeda dengan tertutup yang hanya partai menentukan siapa menjadi wakil rakyat berdasarkan nomor urut paling atas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pdip, gerindra

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top