Produsen Semen Dunia Hadapi Tekanan Kurangi Emisi Karbon Dioksida

Produsen-produsen semen terbesar di dunia telah menghadapi tekanan dari banyak kelompok lingkungan hidup, pihak regulator, dan pembuat kebijakan untuk mengurangi polusi. Tekanan itu kini bertambah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  08:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen-produsen semen terbesar di dunia telah menghadapi tekanan dari banyak kelompok lingkungan hidup, pihak regulator, dan pembuat kebijakan untuk mengurangi polusi. Tekanan itu kini bertambah.

Anggota Institutional Investors Group on Climate Change (IIGCC) dan Climate Action 100+, sebuah koalisi pengelola dana, meminta agar perusahaan-perusahaan bahan bangunan di Eropa berkomitmen pada target untuk mengurangi emisi karbon dioksida bersih menjadi nol pada 2050.

Permintaan ini dilayangkan kepada CRH Plc., LafargeHolcim Ltd., HeidelbergCement AG., dan Compagnie de Saint-Gobain SA., disertai dengan surat yang menetapkan langkah-langkah berlaku untuk masing-masing perusahaan mengenai bagaimana mencapai tujuan itu.

Seperti halnya industri mulai dari pembangkit listrik tradisional hingga pengangkutan dan transportasi, tekanan terhadap perusahaan semen semakin meningkat untuk membersihkan dan membantu memperlambat pemanasan global.

Menurut International Energy Agency (IEA), industri semen berkontribusi sekitar 7 persen dari karbon dioksida buatan di dunia.

“Perusahaan bahan baku konstruksi pada akhirnya dapat mengambil risiko divestasi dan kurangnya akses ke modal,” ujar Vincent Kaufmann, chief executive officer Ethos Foundation, salah satu anggota Institutional Investors Group.

“Semakin banyak investor berupaya untuk mengeluarkan sektor-sektor yang sangat intensif terhadap karbon dari portofolio mereka guna memenuhi rencana dekarbonisasi mereka sendiri,” tambah Kaufmann, seperti diberitakan Bloomberg.

Para pengelola dana meminta perusahaan-perusahaan itu untuk memerinci bagaimana perubahan iklim memengaruhi bisnis mereka, menurut IIGCC, yang merupakan jaringan Climate Action 100+.

Kelompok itu juga meminta perusahaan untuk menyelaraskan investasi mereka dengan upaya untuk membatasi pemanasan global hingga kurang dari 2 derajat Celcius (3,6 Fahrenheit).

“Jika industri semen adalah sebuah negara, maka itu akan menjadi penghasil emisi terbesar ketiga di dunia setelah China dan Amerika Serikat,” jelas Jocelyn Brown, manajer investasi senior untuk kepemilikan berkelanjutan di RPMI Railpen Ltd.

Para produsen semen, lanjut IIGCC, harus menetapkan target jangka pendek, menengah, dan panjang untuk mencapai tujuan menjadi karbon netral pada tahun 2050.

Para investor juga disebutkan berharap perusahaan memberi tanggung jawab khusus untuk perubahan iklim kepada komite dewan atau anggota dewan perusahaan.

Sementara itu, menurut pernyataan perusahaan melalui surel, HeidelbergCement telah menetapkan target nol emisi untuk tahun 2050. Perusahaan bertujuan untuk mencapai hal itu melalui langkah-langkah dari pengurangan CO2 dalam klinker, semen dan beton, juga melalui penangkapan dan daur ulang karbon.

Adapun LafargeHolcim, sejak 1990, telah mengurangi emisi karbon bersih per ton semen sebesar 25 persen serta meningkatkan fokusnya pada teknologi inovatif termasuk penangkapan karbon (carbon capture), juga klinker dan semen baru, menurut juru bicara perusahaan.

Di sisi lain, perusahaan semen juga terekspos harga di pasar karbon Eropa, yang nilainya telah meningkat empat kali lipat sejak awal tahun lalu.

Deutsche Bank, seperti dikutip oleh IIGCC, memperkirakan bahwa harga semen perlu naik sebanyak 5 persen pada tahun 2020 untuk mengimbangi kenaikan biaya karbon.

Lonjakan itu dikatakan akan memiliki dampak negatif antara 1,3 persen dan 5,1 persen terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi pada 2020 untuk produsen-produsen semen di Eropa.

Sektor ini akan menghadapi perubahan dari peraturan bangunan dan infrastruktur yang lebih ketat, ketika negara-negara mengambil inisiatif untuk memenuhi target iklim mereka sendiri.

“Sektor semen perlu secara dramatis mengurangi kontribusi yang dibuatnya terhadap perubahan iklim. Menunda atau menghindari tantangan ini bukanlah suatu pilihan,” ujar CEO IIGCC Stephanie Pfeifer.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim, industri semen

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top