Aksi Unjuk Rasa Hong Kong Mulai Membebani Ekonomi

Unjuk rasa yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir mulai memberikan dampak pada kegiatan ekonomi Hong Kong akibat gangguan yang berisiko membuat pembeli lokal menjauhi pusat perbelanjaan dan menghalangi wisatawan dari mainland China.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  17:57 WIB
Aksi Unjuk Rasa Hong Kong Mulai Membebani Ekonomi
Para pengunjuk rasa yang menuntut dihapuskannya RUU Ekstradisi menggunakan payung ketika berhadapan dengan polisi anti huru hara di dekat Mongkok, Hong Kong, Minggu (7/7/2019). - Reuters/Thomas Peter

Bisnis.com, JAKARTA -- Unjuk rasa yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir mulai memberikan dampak pada kegiatan ekonomi Hong Kong akibat gangguan yang berisiko membuat pembeli lokal menjauhi pusat perbelanjaan dan menghalangi wisatawan dari mainland China.

Asosiasi Manajemen Ritel Hong Kong mengatakan bahwa sebagian besar anggotanya melaporkan penurunan rata-rata satu hingga dua digit dalam pendapatan penjualan mereka antara Juni hingga pekan pertama di bulan Juli.

Rancangan undang-undang ekstradisi yang sempat menuai protes masyarakat Hong Kong memicu unjuk rasa dengan jumlah massa yang masif, di mana mereka berkumpul di sekitar kawasan bisnis dan distrik ritel.

Ancaman terhadap sektor ritel Hong Kong yang vital akan memperburuk tekanan pada ekonomi yang sudah melambat.

Dilansir melalui Bloomberg, data penjualan ritel untuk Juni akan dirilis pada 1 Agustus 2019, tetapi prospeknya tidak begitu baik di tengah nilai barang dijual yang terus terkontraksi sejak Februari.

"Industri khawatir bahwa peristiwa ini akan merusak citra internasional Hong Kong sebagai kota yang aman, ibu kota kuliner, dan surga belanja," tulis asosiasi tersebut dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (17/7/2019).

Sementara itu, Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan, mengatakan bahwa output ekonomi pada kuartal kedua diperkirakan akan melambat, meskipun dia menegaskan tidak ada aliran modal keluar akibat unjuk rasa.

PENURUNAN PENJUALAN

Sa Sa International Holdings Ltd., perusahaan penjual kosmetik, melaporkan penurunan penjualan sebesar 15,3% di Hong Kong dan Makau selama tiga bulan hingga Juni.

Pihak perusahaan mengatakan unjuk rasa telah mempengaruhi beberapa usaha ritel lainnya, apalagi jika dibandingkan dengan penjualan yang tinggi dari tahun sebelumnya.

Untuk periode yang sama, Chow Tai Fook Jewellery Group Ltd. melaporkan penurunan penjualan sebesar 11%.

"Latar belakang politik dan penurunan wisatawan dari mainland meningkatkan kemungkinan pengurangan hingga dua poin persentase dalam margin operasional untuk paruh pertama tahun ini," tulis seorang analis Bloomberg Intelligence Singapura, Catherine Lim.

Peluang terjadinya dampak ekonomi yang nyata dari aksi unjuk rasa ini memicu perbandingan dengan aksi demonstrasi Hong Kong 2014 silam.

Pascademonstrasi besar-besaran tersebut, pertumbuhan ekonomi melambat pada kuartal IV/2014 dari periode sebelumnya dan pemerintah pada saat itu mengatakan bahwa sebagian dari pelemahan itu disebabkan oleh kinerja yang rendah selama unjuk rasa berlangsung.

Pemerintah Hong Kong saat itu juga mengatakan bahwa aksi demonstrasi tersebut mempengaruhi industri pariwisata, hotel, katering, ritel, dan transportasi.

Tahun ini, jumlah pengunjung ke Hong Kong dari mainland China telah meningkat pesat, sebagian berkat pembukaan jembatan baru yang menghubungkan Hong Kong dengan kota Zhuhai, di provinsi Guangdong.

Jumlah wisatawan yang berkunjung sepanjang Mei naik 23,6% secara tahunan, sedangkan data Juni belum tersedia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top