Arab Saudi, Rusia dan 35 Negara Dukung Kebijakan China di Xinjiang

Arab Saudi, Rusia, dan 35 negara lainnya menulis surat kepada Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, menyatakan mendukung kebijakan China di Provinsi Xinjiang. Dukungan ini bertentangan dengan kritik dari Barat terkait dugaan pelanggaran HAM di wilayah itu.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  10:43 WIB
Arab Saudi, Rusia dan 35 Negara Dukung Kebijakan China di Xinjiang
Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, China, berolahraga di lapangan voli pelataran asrama, Jumat (3/1/2019). - ANTARA/M. Irfan Ilmie

Bisnis.com, JAKARTA - Arab Saudi, Rusia, dan 35 negara lainnya menulis surat kepada Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, menyatakan mendukung kebijakan China di Provinsi Xinjiang. Dukungan ini bertentangan dengan kritik dari Barat terkait dugaan pelanggaran HAM di wilayah itu.

Surat yang berhasil dilihat oleh Reuters tersebut, juga ditandatangani oleh duta besar dari banyak negara Afrika, Korea Utara, Venezuela, Kuba, Belarus, Myanmar, Filipina, Suriah, Pakistan, Oman, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Dalam surat tersebut, mereka memuji capaian China dalam menangani isu terorisme di wilayah tersebut.

"Menghadapi tantangan besar terorisme dan ekstremisme, China telah melakukan serangkaian tindakan anti-terorisme dan deradikalisasi di Xinjiang, termasuk mendirikan pusat-pusat pendidikan dan pelatihan kejuruan," demikian pernyataan dalam surat tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (16/7/2019).

Surat itu menyatakan keamanan telah kembali ke Xinjiang dan hak asasi manusia orang-orang dari semua kelompok etnis di sana telah dilindungi. Selain itu, disebutkan bahwa tidak ada serangan teroris di wilayah itu selama 3 tahun dan orang-orang menikmati rasa kebahagiaan, kepuasan, dan keamanan yang lebih kuat.

China menghadapi tekanan internasional karena dituduh menahan satu juta muslim dan menganiaya etnis Uighur di Xinjiang.

PBB menyatakan telah menerima berbagai laporan dari sumber-sumber kredibel bahwa jutaan etnis Uighur tersebut ditahan di suatu kamp pengasingan yang terselubung. Mereka dipaksa mengikuti program "Kamp Indoktrinasi Politik" yang di dalamnya diduga terdapat upaya pelunturan keyakinan yang dianut warga Uighur.

Beijing membantah telah melakukan pelanggaran HAM di wilayah tersebut. Mereka mengklaim bahwa fasilitas tersebut hanya sebagai pusat pelatihan kejuruan untuk memerangi ekstremisme di Xinjiang,

Pada Jumat lalu, Duta Besar China Li Song mengatakan bahwa China sangat mengapresiasi negara-negara yang telah memberikan dukungan terhadap kebijakan China di wilayah tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, pbb, arab saudi

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top