Jelang Temu Trump-Xi Jinping: AS Dikabarkan Bersedia Tunda Tarif Lebih Lanjut

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dikabarkan bersedia untuk menangguhkan pengenaan tarif lebih lanjut terhadap impor tambahan China senilai US$300 miliar.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  10:38 WIB
Jelang Temu Trump-Xi Jinping: AS Dikabarkan Bersedia Tunda Tarif Lebih Lanjut
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Presiden China Xi Jinping (kiri) saat kunjungan ke Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Reuters/Damir Sagolj

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dikabarkan bersedia untuk menangguhkan pengenaan tarif lebih lanjut terhadap impor tambahan China senilai US$300 miliar.

Menurut sumber terkait, keputusan yang masih dipertimbangkan ini dapat diumumkan setelah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping ditetapkan pada Sabtu (29/6/2019) di sela-sela perhelatan KTT G20.

Garis besar agenda pertemuan Trump dan Xi Jinping telah dibahas via sambungan telepon pada Senin (24/6/2019) antara Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Wakil Perdana Menteri China Liu He.

Percakapan via telepon itu digambarkan produktif. Sumber terkait mengungkapkan kedua belah pihak membahas bagaimana mereka dapat menyampaikan dimulainya kembali perundingan perdagangan kepada audiensi domestik mereka sebagai suatu kemenangan.

Pada Selasa (25/6/2019), seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan AS tidak akan menerima ketentuan-ketentuan lebih lanjut tentang tarif sebagai bagian dari dibukanya kembali negosiasi.

Sementara itu, tidak ada perincian kesepakatan perdagangan yang diperkirakan akan dihasilkan dari tatap muka Trump dan Xi Jinping akhir pekan ini.

Pemerintahan Trump mengatakan tujuan pertemuan itu adalah untuk menciptakan jalan untuk perjanjian perdagangan, setelah negosiasi perdagangan berujung buntu pada Mei.

Pembicaraan antara dua pemimpin itu menandai titik kritis dalam perang perdagangan mereka yang telah berlangsung hampir setahun. Kedua belah pihak memiliki banyak kerugian jika perselisihan mereka meningkat.

Trump mengawal ekonomi dan booming pasar saham menuju kampanye kepresidenannya kembali untuk masa jabatan kedua. Sementara itu, ekonomi China telah melambat.

Tarif yang diberlakukan AS mendorong sejumlah perusahaan asing untuk mengalihkan produksi atau merencanakan investasi mereka di negara-negara lain guna menghindari biaya yang lebih tinggi.

Meski masing-masing pihak masih ingin mendapatkan konsesi yang signifikan dari satu sama lain, keduanya disebut sepakat untuk mengurangi respons balas membalas.

Kedua belah pihak bertujuan untuk mencapai gencatan tarif yang dapat menenangkan pasar keuangan sementara pihak mereka melanjutkan negosiasi, menurut sumber terkait. Belum jelas apakah mereka akan menetapkan waktu tertentu untuk gencatan tarif ini.

Sumber terkait mengungkapkan bahwa beberapa penasihat mendorong Trump untuk menghindari penetapan tenggat waktu dalam pertemuannya dengan Xi Jinping di G20 mendatang.

Hal ini demi menghindari situasi serupa ketika kedua pemimpin bertemu pada Desember 2018 dan setuju untuk tidak menerapkan tarif selama 90 hari.

Pada saat itu, Lighthizer dan penasihat lainnya, mengatakan periode penundaan itu ditetapkan untuk memberikan waktu bagi perundingan lebih lanjut. Namun yang terjadi kemudian batas waktu itu berulang kali diperpanjang.

Dan ketika negosiasi kedua negara berujung buntu bulan lalu, Trump menindaklanjuti ancamannya untuk menaikkan tarif menjadi 25 persen dari 10 persen terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup