Iran Akan Keluar Dari Perjanjian Nuklir 2015

Iran menyatakan akan keluar dari kesepakatan nuklir 2015 setelah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sankis baru dan keluarnya ancaman dari Presiden AS Donald Trump untuk menyerang negara itu dengan kekuatan yang menghancurkan kalau Iran menantang perang.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  06:25 WIB
Iran Akan Keluar Dari Perjanjian Nuklir 2015
Iran - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Iran menyatakan akan keluar dari kesepakatan nuklir 2015 setelah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sankis baru dan keluarnya ancaman dari Presiden AS Donald Trump untuk menyerang negara itu dengan kekuatan yang menghancurkan kalau Iran menantang perang.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat sejak tahun lalu ketika Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir meski negara industri  maju lainnya yang ikut menandatangani kesepakatan itu tidak menarik diri. 

Kedua negara yang berseteru itu terjebak dalam perang kata-kata sejak Iran menembak jatuh pesawat pengintai AS meski negara itu mengklaim pesawat itu terbang di wilayah udara internasional.

Senin lalu Washington meningkatkan tekanan dengan memasukkan daftar hitam pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan para panglima militer.

AS juga menyatakan akan memberikan sanksi kepada Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif akhir pekan ini.

Tehran menantang dengan menyatakan sanksi baru AS terhadap Iran menunjukkan Washington berbohong tentang tawaran pembicaraan.

"Pada saat yang sama ketika Anda menyerukan negosiasi Anda berusaha untuk memberi sanksi kepada menteri luar negeri. Jelas bahwa Anda berbohong," kata Presiden Hassan Rouhani seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Rabu (26/6/2019).

Seorang pejabat tinggi keamanan mengatakan Iran akan "dengan tegas" meninggalkan lebih banyak komitmen berdasarkan perjanjian nuklir mulai 7 Juli mendatang.

Iran telah mengumumkan pada tanggal 8 Mei bahwa mereka menangguhkan dua dari janji kesepakatan nuklir 2015 dan memberi Eropa, China dan Rusia ultimatum dua bulan untuk membantunya menghindari sanksi AS.

Kalau AS masih melarang negara itu menjual minyak maka Iran akan meninggalkan dua komitmen lagi.

"Pada 7 Juli, Iran akan secara paksa mengambil langkah kedua mengurangi komitmen pada perjanjian nuklir,” ujar Laksamana Muda Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Iran juga mengejek logika pemberlakuan daftar hitam atas pemimpin tertinggi negaranya yang tiak memiliki aset banyak dan memang tidak berencana untuk mengunjungi AS.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
iran, amerika serikat, Donald Trump

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup