Kisah di Balik 'Tank Man', Simbol Ikonik Perjuangan Demokrasi di China

Aksi heroik 'Tank Man' yang berdiri di hadapan tank militer menjadi simbol perlawanan warga China dalam memperjuangkan demokrasi. Namun 30 tahun setelah Tragedi Tiananmen, pemerintah China berusaha menghapus ingatan tersebut lewat sensor ketat
Kisah di Balik 'Tank Man', Simbol Ikonik Perjuangan Demokrasi di China Iim Fathimah Timorria | 04 Juni 2019 10:44 WIB
Kisah di Balik 'Tank Man', Simbol Ikonik Perjuangan Demokrasi di China
Potret seorang pria tak dikenal yang berdiri menghadang tank militer China menjadi simbol ikonik perjuangan demokrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Jeff Widener mulanya kesal dengan pria tak dikenal yang memasuki bidikan kameranya.

Widener yang kala itu berprofesi sebagai juru foto untuk Associated Press tengah fokus mengambil gambar deretan tank militer yang berbaris di Tiananmen Square. Namun lelaki berkaus putih dan bercelana gelap itu tetap berdiri di depan raksasa besi yang bisa kapan saja menabraknya, lengkap dengan tas belanja di tangan.

Widener mengira lelaki itu bakal merusak komposisi foto yang bakal ia ambil. Sedikit ia sadari, ia hanya selangkah menuju salah satu foto paling ikonik dalam sejarah.

Tanggal hari itu menunjukkan 5 Juni 1989, sehari setelah pasukan militer China lengkap dengan kendaraan baja mereka menyerang pengunjuk rasa pro demokrasi yang telah berkumpul lebih dari sebulan di Tiananmen Square.

Widener sendiri telah seminggu berada di Beijing untuk meliput protes tersebut. Ia bahkan mendapat luka ketika pasukan militer mulai menggunakan aksi kekerasan untuk membubarkan massa.

"Kepala saya kena batu yang dilempar pengunjuk rasa pada 4 Juni pagi. Saya juga sedang flu kala itu," kisah Widener pada CNN, tiga dekade setelah foto itu diambil.

Widener mengambil foto yang kelak dikenal dengan nama 'Tank Man' alias 'Lelaki Tank' itu dari balkon lantai 6 Hotel Beijing. Tempat itu dinilai memiliki titik pandang terbaik untuk memantau alun-alun yang kini dikuasai militer. Ia menyelinap masuk ke hotel dengan bantuan seorang pelajar asal Amerika Serikat yang tengah mengikuti pertukaran, Kirk Marten.

Pemerintah China

Dari balkon hotel, Widener menyaksikan pria itu berdiri di hadapan tank. Kendaraan militer itu lalu berhenti dan mencoba mengelilingi lelaki itu untuk menerobos, namun lelaki itu mengikuti arah gerak tank dan menghalanginya untuk maju.

Pada satu titik selama aksi hadang-menghadang tersebut, pria itu naik ke atas tank dan tampak berbicara kepada siapa pun yang berada di dalamnya.

“Saya berada sekitar setengah mil jauhnya dari barisan tank sehingga tidak bisa mendengar banyak,” kata Widener.

Pria itu akhirnya ditarik pergi oleh orang tak dikenal lainnya. Hingga hari ini, dunia tidak tahu identitas lelaki tersebut atau apa yang terjadi padanya usai penghadangan itu. Namun, dunia mengenalnya sebagai simbol perlawanan yang kuat.

Pada titik tersebut, Pemerintah China berusaha mati-matian untuk mengontrol pesan yang tersiar ke berbagai penjuru dunia. Beberapa hari sebelum militer dikerahkan, China melarang berbagai media untuk melaporkan secara langsung aksi protes di Beijing dan berbagai kota lainnya.

Bagi Widener, mengambil foto tersebut sama artinya dengan menghadapi risiko penyitaan oleh aparat setempat. Martsen, siswa yang membantu Widener masuk ke Hotel Beijing, memasukkan film “Tank Man” ke pakaian dalamnya dan menyelundupkannya keluar dari hotel. Foto-foto itu segera dikirim melalui saluran telepon ke seluruh dunia.

Beberapa media turut mengabadikan momen "Tank Man," tetapi bidikan Widener adalah yang paling sering digunakan. Foto tersebut muncul di halaman depan surat kabar di seluruh dunia dan dinominasikan tahun itu untuk Hadiah Pulitzer.

“Meskipun saya tahu foto itu mendapat banyak pujian, saya baru tahu bertahun-tahun kemudian lewat sebuah tulisan di AOL bahwa gambar yang saya ambil masuk daftar 10 foto paling berkesan sepanjang masa. Itu adalah pertama kalinya saya menyadari bahwa saya telah mencapai sesuatu yang luar biasa," kata Widener.

Aksi Protes

Aksi protes di Beijing dimulai pada 18 April 1989 setelah kematian pemimpin komunis Hu Yaobang. Hu merupakan sosok yang dianggap berkontribusi besar dalam menggerakan sistem politik yang lebih terbuka di China. Ia dianggap sebagai reformis demokrasi. Para simpatisannya, yang kebanyakan adalah kalangan pelajar perguruan tinggi, berkumpul di Tiananmen Square dan menyerukan pemerintahan yang lebih demokratis sebagai wujud penghormatan pada Hu.

Seruan menuju China yang lebih demokratis itu semakin masif ketika serikat pekerja dan aktivis-aktivis turut berpartisipasi. Dalam sebuah demo tertanggal 19 Mei, 1,2 juta demonstran diperkirakan turut hadir di Beijing. Mereka membangun patung Dewi Demokrasi setinggi 33 kaki yang ditempatkan di alun-alun Chang'an, berhadapan langsung dengan potret Mao Zedong yang merupakan simbol komunisme China.

Pasukan China mulai menembaki demonstran sekitar pukul 01.00 dini hari pada 4 Juni. Jumlah korban tewas akibat aksi represif itu tak pernah diumumkan secara resmi. Namun ratusan sampai ribuan orang diperkirakan turut menjadi korban.

Selain korban nyawa, sekitar 10.000 demonstran juga ditangkap selama protes dan beberapa waktu setelahnya. Puluhan orang dikabarkan dieksekusi.

Tiga puluh tahun tahun setelah tragedi Tiananmen, China memang mengklaim bahwa mereka menjamin kebebasan individu. Namun pada saat yang sama sensor dan penghilangan paksa masih terjadi. Sampai detik ini, segala akses pada artikel di jagat maya, foto "Tank Man" dan segala yang merujuk pada peristiwa 4 Juni 1989 diblokir pemerintah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, beijing, militer

Sumber : CNN

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top