Hafidh, Sosok Peraih Nilai Sempurna UN SMA

Hafidh sempat kaget, ketika tahu empat mapel mendapatkan nilai 100.
Tamara Geraldine
Tamara Geraldine - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  11:45 WIB
Hafidh, Sosok Peraih Nilai Sempurna UN SMA
Ananda Hafidh Rifai (kanan), Siswa SMAN 4 Solo mendapatkan nilai 100 untuk empat mata pelajaran UNBK, Senin (13/5). - JIBI

Bisnis.com, SOLO — Bel istirahat SMA Negeri 4 berbunyi, Selasa (14/5) pagi. Waktu menunjukkan pukul 09.45 WIB. Terlihat beberapa siswa berlarian keluar dari ruang kelas. Salah satunya Ananda Hafidh Rifai. Ia berlari dari ruang kelas XII MIPA VI menuju ruang perpustakaan SMAN 4 Solo.

Hafidh mulai bercerita sejak Selasa pagi banyak siswa dan guru, menemui Hafidh. Mereka berniat memberikan selamat kepada Hafidh karena mendapatkan nilai 100 untuk empat mata pelajaran (mapel) dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer. “Selamat ya cah bagus,” ujar salah satu guru perempuan yang datang sambil menjabat tangan Hafidh.

Hafidh sempat kaget, ketika tahu empat mapel mendapatkan nilai 100. Dia sebelumnya tidak memasang target. Hanya kalau bisa, ia harus mendapat nilai bagus. “Alhamdulilah saya lolos SNMPTN [Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri] di Universitas Gadjah Mada [UGM],” ujarnya saat ditemui JIBI di perpustakaan SMAN 4 Solo, Selasa.

Hafidh melanjutkan ceritanya, putra pertama pasangan almarhum Ahmad Kusnanto dan Supadmi tersebut tidak pernah malu membantu ibunya berjualan mainan di SDN Pucangan III, Kartasura, Sukoharjo.

Hafidh sama sekali tidak malu ketika aktivitasnya membantu sang bunda dilihat oleh beberapa orang. Dia bahkan dengan senang hati membantu ibunya melayani pembeli di depan sekolahnya itu.

Dia membantu ibunya sepulang sekolah. Biasanya dia membantu membungkus mainan, merapikan dagangan ibunya. Ketika malam tiba, ia biasanya membantu adik keempatnya yang kini duduk di bangku kelas 1 SD mengerjakan PR.

“Ibu saya memiliki penghasilan Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari untuk menghidupi empat anaknya. Paman saya juga membantu uang maupun makanan untuk biaya kehidupan sehari-hari. Setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB Ibu berjualan di SDN Pucangan III. Terkadang pukul 16.00 WIB dilanjutkan berjualan di beberapa masjid,” ujarnya.

Hafidh juga menjelaskan dirinya, ketiga adiknya dan ibunya tinggal bersama sang paman dalam satu rumah peninggalan neneknya. Dia bersama keluarganya harus berbagi rumah dengan pamannya.

Semenjak kematian ayahnya ketika duduk di bangku kelas X, dia mengajukan biaya keringanan ke sekolah. Siswa yang tinggal di Desa Wirogunan RT 02/RW 03, Kartasura, Sukoharjo ini mengaku ingin mewujudkan mimpi Ibunya. Setelah lulus SMA, Hafidh lolos SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di Universitas Gadjah Mada [UGM].

Dia juga mengikuti program bidikmisi sehingga tidak perlu khawatir mengenai biaya pendidikan selama kuliah. “Semoga dengan ini saya membantu ibu saya, untuk mengangkat derajat keluarga. Pesan ibu, saya kan anak pertama laki-laki, jadi harus bisa menjadi harapan keluarga,” ujarnya.

Ibunda Hafidh, Supadmi mengaku kaget mengetahui anaknya mendapatkan nilai 100 dalam empat mapel. Dia tak menyangka anaknya akan mendapatkan nilai 100 tersebut. Sang ibu baru mengetahui setelah ada pengumuman di sekolah.

“Saya tak menyangka anak saya mendapatkan nilai sempurna. Dulu waktu berada di SMP [Sekolah Menengah Pertama], ia mendapatkan nilai 3,85,” ujarnya.

Supadmi mengaku Hafidh tidak malu mengakui pekerjaan orangtuanya. Hal tersebut yang menjadikan semangat bagi dirinya untuk terus bekerja. “Suami saya meninggal saat Hafidh berada dikelas X. Suami saya pasti bangga memiliki anak seperti Hafidh,” ujarnya.

Supadmi bercerita, dia bersama keempat anak Supadmi, harus tidur berdesak-desakan di tumah peninggalan tersebut. Sebab dalam satu kamar berisi lima orang termasuk dirinya dan beberapa perabotan. Ia bercerita pekerjaan sebagai penjual mainan di depan SDN Pucangan 3, Kartasura, Sukoharjo hanya cukup untuk hidup sehari-hari.

Saat ditemui terpisah Wakil Kepala SMAN 4 Solo bidang Kesiswaan, Nanang Irawanto mengaku bangga melihat prestasi Hafidh. “Hafidh adalah siswa yang pandai dan pendiam. Tetapi sekali dia mempunyai tekad pasti terlaksana. Semoga prestasi dia [Hafidh] dapat menjadi inspirasi bagi para siswa lainnya.

Nanang menyampaikan rasa bangga atas prestasi siswa sehingga diharapkan dapat semakin mengharumkan nama baik sekolah. Sekolah bangga karena Hafidh memang cukup menonjol di bidang akademik. Sehingga saat ada kesempatan berkompetisi, sekolah selalu mendukung dan menjadi fasilitator.

“Hafidh adalah siswa yang membawa pulang medali perak mata pelajaran Astronomi dari ajang Olimpiade Sains Nasional [OSN] 2017. Atas prestasi yang dia dapat pihak sekolah akhirnya memberikan bantuan beasiswa,” kata Nanang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
unik, ujian nasional, Features

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top