AS: China Akan Balas Kenaikan Tarif Impor

Amerika Serikat (AS) memperkirakan China akan membalas pemberlakukan kenaikan tarif terbaru pemerintahan Donald Trump, menurut Kepala Penasihat Ekonomi Larry Kudlow.
John Andhi Oktaveri | 13 Mei 2019 07:11 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Hotel JW Marriott, di Hanoi, Vietnam, Kamis (28/2/2019). - REUTERS/Jorge Silva

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat (AS) memperkirakan China akan membalas pemberlakukan kenaikan tarif terbaru pemerintahan Donald Trump, menurut Kepala Penasihat Ekonomi Larry Kudlow.

"Pembalasan diperkirakan belum diakukan China. Tapi mungkin akan dilakukan hari ini atau besok,” ujar Larry Kudlow kepada televisi Fox News sebagaimana dikutip Theguardian.com, Senin (13/5/2019). 

Perundingan dagang AS-China berakhir pada hari Jumat tanpa kesepakatan dan Trump meningkatkan momok perang dagang ketika memerintahkan agar tarif impor Cina bernilai sekitar US$200 miliar dinaikkan dari 10 persen menjadi 25 persen.

Beijing membalas kenaikan tarif sebelumnya dengan menaikkan bea impor US$110 miliar. Para pejabat China juga menargetkan perusahaan-perusahaan AS dengan memperlambat bea cukai dan memperketat regulasi. 

Pada Sabtu waktu setempat Presiden AS, Donald Trump mengirim pesan dengan mengatakan bahwa Beijing sengaja berupaya menunda negosiasi. 

"China merasa sangat terpukul dalam negosiasi baru-baru ini sehingga mereka sebaiknya menunggu pemilu berikutnya, 2020, untuk melihat apakah mereka bisa beruntung [dan] mendapatkan kemenangan Demokrat," katanya.

Sedangkan Kudlow mengatakan kepada Fox bahwa tidak akan ada lagi perundingan yang dijadwalkan dan "kemungkinan kuat" Trump dan presiden China Xi Jinping "akan bertemu di Jepang pada pertemuan puncak G-20" pada akhir Juni.

Di China, media pemerintah mengatakan pintu untuk pembicaraan selalu terbuka tetapi China tidak akan menyerah pada masalah-masalah penting yang prinsipil.

Dalam sebuah komentar di  media Partai Komunis disebutkan bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang dan China tidak ingin berperang tetapi tidak akan takut untuk melakukannya.

China dan AS berselisih atas tuduhan bahwa China mencuri teknologi dan menekan perusahaan AS untuk menyerahkan rahasia dagang. Upaya itu dilakukan untuk menjadikan perusahaan China sebagai pemimpin dunia dalam bidang robot, mobil listrik dan industri maju lainnya.

Kudlow mengatakan China belum menerapkan perubahan yang diinginkan Washington, termasuk ketentuan penegakan hukum yang kuat tentang isu-isu seperti transfer teknologi paksa dan kekayaan intelektual.

"Kita harus memiliki perjanjian yang sangat kuat untuk memperbaiki kesalahan,” ujarnya.

Kudlow juga mengatakan rencana Trump untuk menaikkan tarif di seluruh sektor bisa memakan waktu beberapa bulan. 

 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, amerika serikat, Donald Trump

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup