2 Bulan Usai Teror Christchurch, Polisi Selandia Baru Tetap Jaga Masjid

Dua bulan usai serangan teror Christchurch, aparat keamanan Selandia Baru tetap melakukan pengamanan di pusat-pusat peribadahan penduduk.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 07 Mei 2019  |  16:21 WIB
2 Bulan Usai Teror Christchurch, Polisi Selandia Baru Tetap Jaga Masjid
Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya memberi keterangan soal kondisi di Selandia Baru di kantor Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (7/5/2019) - Bisnis/Iim F. Timorria

Bisnis.com, JAKARTA -- Pihak keamanan Selandia Baru tetap melakukan pengamanan di pusat-pusat peribadahan penduduk, terutama di masjid-masjid, 2 bulan setelah serangan teror Christchurch.

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya mengungkapkan pengamanan tersebut dilakukan bukan dalam rangka menakuti masyarakat akan bahaya teror, tapi untuk menjamin rasa aman bagi umat Muslim.

"Polisi masih hadir di tempat-tempat tertentu, khususnya di tempat ibadah, dalam hal ini masjid. Misalnya, saat salat Jumat. Bulan suci Ramadan kunjungan umat Muslim ke masjid tinggi, maka dipastikan akan mereka jaga. Apalagi nanti ketika salat Ied," ungkapnya kepada wartawan di Kantor Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (7/5/2019).

Meski pengamanan terus berlanjut, Tantowi menyatakan penjagaan di Selandia Baru tidak dilakukan secara berlebihan. Hal ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah setempat yang tidak ingin melanggengkan rasa takut yang timbul akibat teror.

"Jangankan di kota-kota lain, kota Christchurch, kota yang tempat kejadian teror terjadi pun polisi itu tidak begitu terlihat. Namun, kota itu dijaga dengan baik," sambungnya.

Tantowi pun mengungkapkan banyak hal yang bisa dipelajari Indonesia dari Selandia Baru dalam menghadapi krisis usai teror. Apalagi, aksi penembakan massal yang merenggut 51 nyawa itu merupakan teror pertama yang dirasakan Negeri Kiwi pada era modern.

Dia menyebutkan ada dua hal yang ditanamkan Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern, yang merupakan jawaban atas tuntutan teroris yang tidak dipenuhinya. Dua hal tersebut adalah rasa takut dan kepopuleran yang diharapkan muncul usai pelaku teror melancarkan aksinya.

Ardern memastikan dua hal tersebut tidak berkembang di tengah masyarakat Selandia Baru yang beragam.

"Dia memastikan warga Selandia Baru tidak takut, mereka bahkan menghadapinya secara bersama-sama dan itu betul. Seluruh umat beragama di sana bersatu padu membela umat Islam. Kerukunan umat beragama itu pun menjadi momentum buat mereka supaya semakin kuat," jelas Tantowi.

Pemerintah Selandia Baru dan media setempat pun enggan memberi panggung popularitas bagi pelaku teror. Nama pelaku tidak pernah lagi disebut dalam pemberitaan, wajahnya bahkan dikaburkan ketika muncul di layar kaca.

Penembakan massal yang menyasar dua masjid di kota Christchurch pada 15 Maret 2019 merupakan salah satu peristiwa terkelam dalam sejarah Selandia Baru. Penembakan yang disebut Ardern sebagai 'aksi terorisme' itu menewaskan 51 warga Muslim yang hendak menunaikan ibadah salat Jumat, termasuk seorang warga Indonesia yang telah menetap selama 16 tahun di kota tersebut.

Pelaku diketahui sebagai seorang warga Australia berusia 28 tahun dan melakukan penembakan dengan senjata api yang diperoleh secara legal. Sejak aksi teror tersebut, negara itu langsung melakukan reformasi UU yang membatasi penjualan senjata laras panjang semi-otomatis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
selandia baru

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top