Srimenanti, Ketika Jokpin Tak Cukup Hanya dengan Puisi

“Saya harus akui masalah yang disajikan ini sangat sulit diakomodasikan dalam bentuk puisi. Mau tidak mau harus becerita sehingga dibuat novel dengan ruang yang lebih luas untuk menjabarkan,” ujar penyair Celana itu.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 05 Mei 2019  |  10:47 WIB
Srimenanti, Ketika Jokpin Tak Cukup Hanya dengan Puisi
Penyair Joko Pinurbo merilis novel pertama yang diberi judul Srimenanti. JIBI/Bisnis - Syaiful Millah

Bisnis.com, JAKARTA – Sore itu, penyair kenamaan Tanah Air Joko Pinurbo sedang bertutur mengenai sebuah kisah. Ada keheningan ketika dia mengambil jeda untuk menentukan kata apa yang tepat untuk disampaikan kepada para pendengar cerita itu.

Kendati cerita tersebut tak langsung dialami olehnya, tetapi rangkaian yang dia narasikan itu begitu dekat dengan kehidupannya selama bertahun-tahun. “Ada trauma mendalam yang saya saksikan betul dari seorang perempuan yang saya kenal,” katanya.

Hal itulah yang dia katakan sebagai salah satu fondasi pembuatan novel perdananya berjudul Srimenanti yang baru diterbitkan pada April 2019.

Novel ini sebenarnya pertama kali dirilis pada akhir Maret di Yogyakarta. Namun, penyair yang akrab disapa Jokpin ini bersama Gramedia Pustaka Utama secara resmi memboyong novel tersebut ke Jakarta pada Selasa (30/4).

Jokpin merupakan penyair yang telah melahirkan ratusan puisi sejak dirinya pertama kali menulis pada 1977.

Beberapa buku kumpulan puisi yang pernah terbit adalah Celana (1999), Kekasihku (2004), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Buku Latihan Tidur (2017), dan lainnya.

Aksinya kali ini yang menulis sebuah novel dilakukan karena ada sebuah persoalan yang ingin dilukiskan oleh Jokpin, tetapi tidak cukup dituangkan hanya ke dalam puisi.

“Saya harus akui masalah yang disajikan ini sangat sulit diakomodasikan dalam bentuk puisi. Mau tidak mau harus becerita sehingga dibuat novel dengan ruang yang lebih luas untuk menjabarkan,” ujarnya.

Novel Srimenanti merupakan upayanya untuk bercerita tentang hal lain yang lebih mendalam dan personal dari sebuah peristiwa besar yang terjadi. Kisanya menyangkut masalah psikologis yang dialami oleh seseorang pascakejadian yang menimpa lingkungan dekatnya.

Jokpin menilai telah banyak novel yang bercerita mengenai kejadian besar di Tanah Air seperti peristiwa 1965 atau 1998 dari sudut pandang luas meliputi ideologi hingga politik.

Tak sedikit dampak yang dirasakan oleh individu yang menjadi ‘korban’ dari peristiwa tersebut. Hal itu yang selanjutnya digali Jokpin lebih dalam dan dituangkan melalui novel 135 halaman miliknya.

PERGULATAN

Jokpin mengatakan bahwa kendati pada akhirnya eksekusi novel tersebut dilakukan dalam waktu 4 bulan, tetapi prosesnya melibatkan pergulatan untuk jangka waktu yang lama.

Dia mengatakan bahwa embrio dari Srimenanti telah ada sejak 2002-2003. “Sekitar 12 tahun sejak saya memutuskan mengembangkan novel dari puisi saya, Laki-Laki Tanpa Celana,” katanya.

Masalahnya tidak hanya terletak pada kesulitan menulis novel setelah beberapa dekade banyak menulis puisi. Hal itu pula yang menjadi tantangan, bahwa novel menuntut penuturan kalimat bercerita, sementara puisi menuntut pemadatan kalimat dalam menyampaikan makna.

Narasi Srimenanti seolah hadir seperti puisi-puisinya dengan kisah yang megangkat hal-hal sepele sehari-hari seperti celana, kopi, juga kamar mandi. Bahasanya yang diterapkan pun sederhana, cukup nakal, dan penuh imajinasi.

Novel ini pun seperti halnya pengembangan dari sejumlah puisinya yang tenar semacam Laki-laki Tanpa Celana dan Ayat Kopi.

Srimenanti bercerita tentang seorang yang mengalami trauma berat dari sebuah kejadian dan berupaya sebisa mungkin untuk menyembuhkan diri serta berdamai dengan dirinya sendiri dan orang lain.

Kondisi emosional pun menjadi kesulitan utama bagi Jokpin dalam menulis cerita Srimenenti ini. Pasalnya, tokoh utama dalam cerita itu terinspirasi dari kisah nyata seseorang yang dikenal langsung olehnya.

“Ada kesulitan untuk tidak mencampurkan emosi dalam cerita,” katanya. Lewat Srimenenti, Jokpin cukup menguras emosi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
puisi

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top