Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jejak Radiasi Nuklir Fukushima Ditemukan Hingga Selat Bering Alaska

Jejak radioaktif dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, Jepang,  yang dihantam gempa dan tsunami pada 2011 terdeteksi hingga perairan di lepas pulau Alaska di Selat Bering.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 Maret 2019  |  15:22 WIB
Reaktor nuklir Fukushima
Reaktor nuklir Fukushima

Bisnis.com, JAKARTA – Jejak radioaktif dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, Jepang,  yang dihantam gempa dan tsunami pada 2011 terdeteksi hingga perairan di lepas pulau Alaska di Selat Bering.

Hal tersebut diungkapkan tim ilmuwan dari program Fairbanks Sea Grant, University of Alaska yang melakukan analisis air laut yang sejak satu tahun lalu di dekat Pulau St. Lawrence. Mereka mengungkapkan adanya peningkatan tipis kadar radioaktif cesium-137 yang disebabkan oleh bencana Fukushima.

"Ini adalah ujung utara dari bulu-bulu," kata Gay Sheffield, agen penasihat kelautan Sea Grant yang berbasis di kota Laut Bering, Nome, Alaska, seperti dikutip Reuters.

Radiasi Fukushima yang baru terdeteksi sangat kecil. Tingkat produk sampingan dari fisi nuklir, cesium-137, di air laut hanya 40% lebih rendah dari jejak isotop yang secara alami ditemukan di Samudera Pasifik.

Sheffield mengatakan tingkat tersebut terlalu rendah untuk menimbulkan masalah kesehatan bagi orang yang tinggal di pantai Laut Bering yang hidup dari makanan yang ditangkap di laut.

Level cesium-137 sekitar 3.000 kali lebih tinggi daripada yang ditemukan di Laut Bering tersebut dianggap aman untuk dikonsumsi manusia berdasarkan standar air minum Badan Perlindungan Lingkungan AS.

Gempa dan tsunami berkekuatan 9,0 skala richter pada Maret 2011 memicu kehancuran di tiga dari enam reaktor Fukushima Daiichi dan memuntahkan radiasi ke udara, tanah dan laut serta memaksa 160.000 penduduk mengungsi.

Itu adalah bencana nuklir terburuk di dunia sejak Chernobyl 25 tahun sebelumnya.

Studi Jangka Panjang

Hasil penelitian yang dilaporkan tersebut berasal dari program pengujian jangka panjang dengan skala kecil.

Air yang digunakan untuk sampel penelitian diambil selama beberapa tahun terakhir oleh Eddie Ungott, seorang penduduk desa Gambell di ujung barat laut Pulau St. Lawrence.

Meskipun masuk negara bagian Alaska, secara Pulau St. Lawrence fisik lebih dekat ke Rusia daripada ke daratan Alaska, dan sebagian besar penduduk berbahasa Yupik Siberia.

Radionuklida dari Fukushima tersebut telah ditemukan hingga perairan Pasifik di lepas Pantai Barat AS, British Columbia, dan di Teluk Alaska.

Sebelum sampel di Pulau St. Lawrence diuji oleh Lembaga Oseanografi Woods Hole, satu-satunya sisa radiasi Fukushima yang ditemukan adalah di Laut Bering yang terdeteksi pada 2014.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nuklir fukushima
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top