Bank Sentral Jepang Pertahankan Target Inflasi 2%

Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Haruhiko Kuroda mempertahankan target inflasi 2% yang mempengaruhi program stimulus moneternya setelah sebelumnya pemerintah menyarankan pendekatan yang lebih fleksibel untuk mencapai target.
Nirmala Aninda | 15 Maret 2019 19:25 WIB
Bank Sentral Jepang - bizdaily.com.sg

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Haruhiko Kuroda mempertahankan target inflasi 2% yang mempengaruhi program stimulus moneternya setelah sebelumnya pemerintah menyarankan pendekatan yang lebih fleksibel untuk mencapai target.

"Tidak ada perubahan pada kebijakan BOJ yang bertujuan untuk mencapai ekonomi stabil sambil mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, harga dan kondisi keuangan secara keseluruhan," ujar Kuroda dalam konferensi pers, seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (15/3/2019).

Dengan efek samping dari kebijakan bank sentral yang menumpuk, ada sejumlah seruan yang menginginkan agar BOJ dapat mempertimbangkan kembali target inflasi 2%, sebagian analis menganggap target tersebut tidak realistis.

Menteri Keuangan Jepang Taro Aso pekan ini juga sempat menyampaikan bahwa kondisi ekonomi saat ini sudah banyak berubah sejak bank sentral dan pemerintah menyetujui target inflasi 2% pada 2013.

Menurut Aso, jika bank sentral bersikeras mempertahankan target lama tanpa fleksibilitas terhadap kondisi ekonomi terkini maka hal itu akan menjadi masalah.

Dalam konferensi pers tersebut, Kuroda mengatakan target inflasi tersebut merupakan keputusan yang dewan kebijakan bank sentral dan diperlukan untuk mencapai misi stabilitas harga.

"Seperti yang saya katakan sebelumnya, mencapai 2% saja tidak cukup. BOJ bertujuan untuk menciptakan ekonomi yang memberikan keuntungan bagi perusahaan dan peningkatan upah. Ketika investasi dan konsumsi meningkat, harga-harga juga akan naik secara moderat," kata Kuroda.

Pada saat yang sama BOJ juga menurunkan proyeksi ekspor, output pabrik, dan ekonomi luar negeri.

Proyeksi kelam pada ekonomi tersebut sebagian besar disebabkan oleh sejumlah data indikator ekonomi yang menunjukkan pelemahan selama satu bulan terakhir.

Sebagian besar analis masih mengharapkan BOJ untuk tetap mempertahankan kebijakan  ini kecuali jika ada penurunan parah atau lonjakan pada yen.

Terlepas dari kekhawatiran BOJ tentang ekonomi, mereka tidak memperkirakan resesi akan terjadi.\

Harumi Taguchi, ekonom utama di IHS Global Insight Inc. mengatakan BOJ sepertinya belum melihat adanya kebutuhan mendesak untuk mengeluarkan kebijakan baru.

"Yang penting bagi BOJ adalah momentum kenaikan harga dan siklus positif termasuk pada pertumbuhan upah. Poin-poin itu sebagian besar tidak berubah," katanya.

Taguchi juga mencatat bahwa harga minyak naik dan yen masih stabil.

Sejak pertemuan dewan gubernur BOJ sebelumnya pada Januari, indikator ekspor dan output pabrik telah melemah sementara investasi modal tampaknya akan menurun.

Indeks inflasi utama bank sentral bertahan pada 0,8% pada Januari dan diperkirakan akan menuju nol dalam beberapa bulan mendatang.

BOJ juga menyampaikan bahwa ekonomi Jepang terus berkembang secara moderat, tetapi perlambatan global telah memberikan dampak pelemahan pada realisasi ekspor dan produksi industri.

Namun menurut mereka, ekonomi luar negeri akan terus tumbuh moderat, mendukung tren peningkatan ekspor Jepang dan ekspansi ekonomi domestik.

"Dalam jangka panjang, BOJ mungkin harus mempertimbangkan kembali kerangka kerja kebijakan terbaik, mengingat akan memakan waktu yang sangat lama untuk mencapai target harga," kata Naomi Muguruma, ekonom pasar senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.

Tag : Inflasi, bank sentral jepang
Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top