KABAR GLOBAL: Sinyal Dovish The Fed Makin Kuat, Berharap China Lekas Pulih

Berita seputar penegasan sikap dovish Bank Sentral Amertika Seriakt serta ekspektasi pemulihan ekonomi China menjadi topik utama media massa hari ini, Kamis (28/2/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  08:50 WIB
KABAR GLOBAL: Sinyal Dovish The Fed Makin Kuat, Berharap China Lekas Pulih
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA – Berita seputar penegasan sikap dovish Bank Sentral Amertika Seriakt serta ekspektasi pemulihan ekonomi China menjadi topik utama media massa hari ini, Kamis (28/2/2019).

Berikut ringkasan sejumlah berita yang menjadi topik utama hari ini:

Sinyal Dovish The Fed Makin Kuat. Bank Sentral Amerika Serikat kembali menegaskan sikapnya bahwa The Fed tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga acuan di tengah indikasi perlambatan ekonomi domestik yang masih akan terjadi. (Bisnis Indonesia)

Berharap China Lekas Pulih. Penguatan bursa saham dan komoditas di Negeri Panda menjadi pertanda pemulihan ekonomi China yang sejak berbulan-bulan mengalami perlambatan. (Bisnis Indonesia)

Jerman Diuntungkan Euro. Jerman memperoleh hampir 1,9 triliun antara tahun 1999 dan 2017 sebagai hasil dari pemberlakuan mata uang bersama Eropa, euro, kata Center for European Policy (CEP) ketika memperkenalkan hasil penelitian terbarunya hari Senin (25/2), mengutip dw.com. Lembaga pemikir yang berbasis di Freiburg ini mengkaji serta mengevaluasi berbagai kebijakan UE. (Kontan)

India & Pakistan Memanas. India dan Pakistan saling bertukar serangan di sepanjang perbatasan kedua negara di wilayah Kashmir, Rabu (27/2). Aksi saling serang ini terjadi sehari setelah pesawat tempur India menyerang wilayah Pakistan untuk pertama kali sejak perang tahun 1971. (Kontan)

Mengejar Target Inflasi. Anggota dewan kebijakan Bank of Japan (BoJ) Goushi Kataoka mengatakan, bank sentral harus meningkatkan stimulus moneter untuk mencapai inflasi. Ia menilai, dengan mempertahankan kebijakan yang berjalan saat ini dalam waktu yang terlalu lama dapat mengakibatkan perubahan ekonomi yang berlebihan. (Kontan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar global

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top