FOKUS PASAR GLOBAL: Kelanjutan Perundingan Dagang hingga Tren Investasi di India

Reli saham di Asia dimulai atas optimisme terhadap perpanjangan waktu 'gencatan senjata' perang tarif antara Amerika Serikat dan China, namun tercatat mereda di Negeri Paman Sam.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  09:22 WIB
FOKUS PASAR GLOBAL: Kelanjutan Perundingan Dagang hingga Tren Investasi di India
Ilustrasi - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Reli saham di Asia dimulai atas optimisme terhadap perpanjangan waktu 'gencatan senjata' perang tarif antara Amerika Serikat dan China, namun tercatat mereda di Negeri Paman Sam.

Di samping kelanjutan perundingan dagang, berikut adalah beberapa hal yang dibicarakan pelaku pasar global seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (26/2/2019):

1. Trump Ajukan KTT Penandatangan Perjanjian Dagang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengajukan prospek penandatanganan kesepakatan perdagangan baru dengan Presiden China Xi Jinping menyusul optimisme kemajuan besar pada upaya untuk mengakhiri perang dagang.

"Sepertinya mereka akan kembali dalam waktu dekat," kata Trump seperti dikutip Bloomberg. Pernyataan Trump tersebut merujuk pada kemungkinan negosiator China kembali ke Washington setelah perundingan dagang yang dilaksanakan selama sepekan.

"Kami akan mengadakan KTT penandatanganan perjanjian dagang, ini akan lebih baik. Kita sudah sedekat itu [menuju kesepakatan]," tambahnya.

Namun, Trump dengan cepat menahan antusiasmenya, mencatat bahwa kesepakatan "mungkin tidak terjadi sama sekali." Petunjuk Trump tentang pertemuan tingkat tinggi dengan Xi menggarisbawahi definisi bahwa kedua negara mendekati pada sebuah kesepakatan baru, lebih dari tujuh bulan sejak AS pertama kali mengenakan tarif pada impor China.

2. Saham Melemah Jelang Penutupan

Bursa Asia tampak siap untuk awal yang beragam (mixed start) setelah ekuitas AS nyaris tidak mampu mempertahankan kenaikan pada Senin (25/2) waktu New York. Setelah mencapai level tertinggi pada sesi pembukaan perdagangan, S&P 500 bergeraklebih rendah di tengah penurunan pada sektor utilitas, real estat dan produk pokok konsumen, sebelum ditutup nyaris keluar dari zona hijau. Saham Eropa dan Asia menguat sebelumnya.

Saham General Electric melonjak setelah perusahaan setuju untuk menjual bisnis bio-pharma dengan total pertimbangan US$21,4 miliar.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi mengalami peningkatan, sementara tembaga turut menjaga pertumbuhan positif. Emas mengalami sedikit perubahan dengan kenaikan pada Newmont Mining atas tawaran akuisisi dari pesaing, Barrick Gold.

3. Minyak Merosot, Trump Peringatkan Risiko Harga Tinggi

Harga minyak mengalami penurunan paling parah dalam lebih dari dua pekan setelah Trump menuliskan pada akun Twitternya bahwa harga minyak terlampau tinggi dan menyarankan OPEC agar lebih 'santai'. Minyak berjangka di New York turun sebesar 3,8% pada perdagangan Selasa (26/2).

Perang verbal antara Trump dengan OPEC menyebabkan perubahan harga yang cukup besar tahun lalu, dimana waktu itu Trump menekan organisasi internasional tersebut untuk menjaga produksi agar mencukupi kebutuhan konsumen.

Trump, melalui akun Twitternya, juga menyampaikan bahwa dunia tidak mampu mengatasi kenaikan harga. Menurut analis di Nasdaq Inc., Tamar Essner, cuitan Trump tersebut mengacu pada kenaikan harga minyak pekan lalu. Komoditas minyak sempat mengalami reli menyusul kabar dimana Arab Saudi akan fokus pada pengurangan ekspor yang sudah diwacanakan sejak Desember.

4. PM May Pertimbangkan Penundaan Brexit

Menurut sejumlah sumber, Theresa May sedang mempertimbangkan rencana untuk menunda Brexit dan menghentikan Inggirs meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Sang perdana menteri diperkirakan akan memberikan kesempatan pada kabinetnya untuk membahas perpanjangan batas waktu melampaui 29 Maret pada pertemuan darurat pada Selasa (26/2). Hasil pertemuan ini akan disampaikan keesokan hari. Meskipun belum ada keputusan akhir yang diambil, menunda jadwal penarikan Inggris dari Inggris akan menjadi pertaruhan politik yang besar.

Di satu sisi, langkah akan mencegah pengunduran diri massal para menteri pro-Uni Eropa yang berada dalam tim kabinet PM May. Meski demikian di sisi lain, langkah ini berisiko memicu serangan destabilisasi dari para Konservatif euroskeptik. Secara terpisah, pemimpin oposisi Partai Buruh Jeremy Corbyn telah tunduk pada tekanan dari anggota parlemennya dan setuju untuk mendukung referendum Brexit yang baru.

5. India Kehilangan Momentum Tren Investasi

Tidak seperti Asia Tenggara, India tidak melihat adanya keuntungan investasi karena ketegangan perdagangan global mengganggu rantai pasokan. Investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) pada ekonomi terbesar ketiga di Asia tersebut turun 7% dalam sembilan bulan hingga Desember, menandakan perlambatan investasi sebelum pemilihan umum mendatang.

Aliran masuk FDI ke India selama periode tersebut tercatat sebesar US$33,5 miliar, lebih rendah dari US$35,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini lebih menonjol di sektor manufaktur. Kondisi ini harus menjadi perhatian bagi Perdana Menteri Narendra Modi yang saat ini tengah mengupayakan untuk memenangkan periode jabatan kedua dalam pemilihan yang akan diadakan Mei.

Modi pertama kali naik jabatan menjadi Perdana Menteri pada 2014 dengan margin kemenangan terbesar dalam 30 tahun terakhir setelah berjanji akan menjadikan India sebagai pusat manufaktur dan menciptakan lapangan kerja bagi 10 juta orang setiap tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sentimen pasar, Brexit, perang dagang AS vs China

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top