Jalan Panjang Kim Jongun Memakmurkan Korea Utara

Sejak melakukan pembicaraan damai dengan Korea Selatan tahun lalu, pemimpin Korea Utara yang dulu tertutup berubah menjadi salah satu tamu negara yang paling ditunggu di Asia.nnPada setiap pemberhentian, dari Beijing hingga Singap
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  13:35 WIB
Jalan Panjang Kim Jongun Memakmurkan Korea Utara
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Sejak melakukan pembicaraan damai dengan Korea Selatan tahun lalu, pemimpin Korea Utara yang dulu tertutup berubah menjadi salah satu tamu negara yang paling ditunggu di Asia.

Pada setiap pemberhentian, dari Beijing hingga Singapura, kini Hanoi, Kim Jongun, 35 tahun, selalu terlihat diperlakukan seperti raja oleh para pejabat negara yang ingin membangun hubungan bilateral dengan salah satu pasar negara berkembang yang belum terjamah.

Perubahan status dari sekadar tamu internasional menjadi tamu kehormatan adalah bukti keberhasilan Kim dalam merebut para pemimpin militer dan mengeliminasi rivalnya sepeninggalan Kim Jongil pada 2011.

Keterbukaan Kim terhadap dunia luar juga menggambarkan keinginannya untuk memulihak ekonomi yang terserang kelaparan selama beberapa dekade, perencanaan negara serta ekspansi militer di bawah kepemimpinan kakek dan ayahnya.

"Kim Jongun berpikir bahwa ketika dia menjadi pemimpin, dia akan mengatur negara ini jauh lebih baik dari ayahnya yang tertutup," ujar Kim Younghui, yang membelot dari Korea Utara pada tahun 2002 dan sekarang menjadi ekonom senior di Bank Pembangunan Korea, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (25/2/2019).

Selama tujuh tahun terakhir, Kim yang berpendidikan Swiss telah mengarahkan Korea Utara dari kepentingan militer ayahnya yang berfokus pada pembangunan persenjataan nuklir menjadi kebijakan yang menekankan kepentingan ekonomi.

Setelah berhasil menguji coba rudal balistik antarbenua pada tahun 2017, Ia mengawali pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan mengumumkan strategi baru untuk meningkatkan ekonomi.

Langkah ini berhasil mengakhiri ancaman perang dari AS dan membuka jalan bagi pertemuan bersejarah antar keduanya pada Juni tahun lalu untuk pertama kalinya.

Keterbukaan Kim Jongun turut membuka kesempatan bagi investor baru dari Korea Selatan hingga Singapura, asalkan Trump melonggarkan sanksi internasional terhadap program senjata nuklir Korea Utara.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kim telah mengecam sanksi, yang diterapkan pada hampir seluruh aspek  mulai dari larangan bepergian bagi pejabat serta mengekang impor energi.

Menurut data perkiraan Korea Selatan, Korea Utara menempati peringkat sebagai salah satu negara termiskin di dunia dan sanksi AS diyakini telah membantu menyebabkan resesi terdalam yang dialami negara itu dalam dua dekade terakhir pada 2017.

Trump sendiri telah berulang kali mengutip tujuan pengembangan Kim sambil mengutarakan alasan Korea Utara akan memperdagangkan persenjataan nuklirnya.

"Pemimpin Kim menyadari, mungkin lebih dari siapapun, bahwa tanpa senjata nuklir, negaranya akan dengan cepat menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar di dunia," ujar Trump melalui akun twitternya pada Minggu (24/2).

Trump percaya bahwa letak geografis dan sumber daya manusia yang dimiliki Pyongyang memiliki potensi untuk tumbuh lebih cepat dari negara lain.

Chun Yungwoo, mantan kepala utusan Korea Selatan untuk perundingan nuklir internasional dengan Korea Utara, mengatakan keberhasilan konsolidasi kekuasaan Kim mengharuskan dia untuk mempertimbangkan negara seperti apa yang dia inginkan untuk menjaga kekuasannya selama 40 hingga 50 tahun ke depan.

"Dia ingin memiliki negara yang lebih makmur melalui pembangunan ekonomi. Tanpa merelakan senjata nuklir, yang bisa dia lakukan adalah mempertahankan ekonomi pada tingkat subsisten," ujar Chun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Korea Utara, kim jong un, Donald Trump

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top