Bom Bunuh Diri di Gereja, Polisi Filipina Belum Rilis Bukti Keterlibatan WNI

Tuduhan keterlibatan WNI dalam aksi teror di Filipina bukanlah hal yang pertama. Pejabat Filipina sebelumnya juga pernaha menyampaikan keterlibatan WNI tanpa disertai bukti kuat dan hasil investigasi.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 05 Februari 2019  |  08:48 WIB
Bom Bunuh Diri di Gereja, Polisi Filipina Belum Rilis Bukti Keterlibatan WNI
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhammad Iqbal (kedua kanan) bersama Duta Besar RI untuk Filipina Sinyo Sinyo Harry Sarundajang (ketiga kanan) memberikan keterangan pers terkait pembebasan dan penyerahan kembali tiga WNI yang sebelumnya disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan, Jakarta, Rabu (19/9/2018). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Duta Besar Indonesia untuk Filipina Sinyo Harry Harundjang mengungkapkan bahwa Kepolisian Nasional Filipina (PNP) belum merilis bukti yang menguatkan dugaan keterlibatan WNI dalam serangan bom bunuh diri di Gereja Katedral Our Lady of Mt. Carmel pada Minggu (27/1/2019).

"Otoritas setempat belum mengeluarkan hasil uji DNA serta gambar resmi hasil rekaman CCTV di lokasi ledakan, yang menyatakan bahwa kedua pelaku adalah WNI sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Dalam Negeri Ano," kata Harry dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Selasa (5/2/2019).

Dugaan keterlibatan WNI dalam aksi bom bunuh diri yang menewaskan 22 orang itu berawal dari pernyataan Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano beberapa waktu lalu.

Dalam suatu pernyataan resmi yang dikutip media lokal pada Jumat (1/2/2019), Ano mengungkapkan keyakinannya bahwa pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral Our Lady of Mt. Carmel adalah sepasang suami istri yang berasal dari Indonesia. Ia mengidentifikasi pria pelaku ledakan itu sebagai Abu Huda tanpa menyebutkan nama istrinya.

Ano memaparkan bahwa kedua WNI tersebut dibimbing oleh kelompok Abu Sayyaf dan melancarkan serangan untuk menginspirasi teroris lokal.

Kendati telah menyampaikan informasi tersebut, hasil penelusuran KBRI Manila dan KJRI Davao menyebutkan bahwa pihak intelijen Filipina (NICA) justru belum mengetahui dasar penyampaian informasi yang diberikan oleh Menteri Ano terkait keterlibatan WNI dalam aksi bom bunuh diri itu.

Berdasarkan catatan KBRI Manila, ini bukan kali pertama pejabat Filipina menyampaikan keterlibatan WNI dalam aksi teror tanpa memberikan bukti dan hasil investigasi terlebih dahulu.

Tuduhan keterlibatan WNI pernah disampaikan pada saat peledakan bom di Kota Lamitan, Provinsi Basilan pada 31 Juli 2018. Tak hanya itu, otoritas Filipina kembali menyebut keterlibatan WNI atas nama Abdulrahid Ruhmisanti dalam aksi ledakan bom jelang tahun baru 2019.

"Meski demikian, hasil investigasi menunjukkan tidak ada keterlibatan WNI dalam dua pengeboman tersebut sebagaimana pernyataan aparat dan pemberitaan-pemberitaan media," kata Harry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
filipina, bom bunuh diri

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top