Perusahaan di Uganda Gunakan Blockchain untuk Melacak Pengiriman Kopi

Sebuah perusahaan di Uganda menggunakan blockchain untuk mensertifikasi dan melacak pengiriman kopi.
Wibi Pangestu Pratama | 24 Januari 2019 01:32 WIB
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah perusahaan di Uganda menggunakan blockchain untuk mensertifikasi dan melacak pengiriman kopi.

Informasi mengenai asal muasal kopi dinilai meningkatkan kepercayaan konsumen dan membawa keuntungan.

CEO Carico Café Connoisseur, Mwambu Wanendeya, menjelaskan penerapan teknologi tersebut dapat meningkatkan pendapatan petani kopi karena konsumen berani membayar lebih untuk kopi yang dapat ditelusuri asalnya.

Penelusuran tersebut dapat dilakukan dengan adanya blockchain, teknologi di balik mata uang virtual Bitcoin.

Blockchain dinilai sebagai salah satu cara yang aman untuk melacak barang di sepanjang rantai pasokan. Teknologi tersebut bekerja dengan membagikan catatan data dari tiap komputer yang terhubung.

Wanendeya menjelaskan salah satu produk kopi dari kedainya dikirim dengan sertifikasi blockchain dan telah tiba di Afrika Selatan bulan lalu.

Konsumen bisa mendapatkan informasi dari jenis biji kopi, tahun dipanen, dan lokasi penanaman dari kopi Bugisu Blue, produksi kedai milik Wanendeya.

Idenya adalah untuk memberi konsumen apresiasi tentang apa yang terjadi dalam perjalanan [kopi] dan untuk memastikan bahwa lebih banyak hubungan dengan petani.

"Ketertelusuran penting karena orang-orang semakin memperhatikan bahwa petani mendapat imbalan [yang layak] atas pekerjaannya," ujar Wanendeya, Rabu (23/01/2019), dilansir dari Reuters.

Konsumen dapat melacak perjalanan kopi menggunakan gawai pintar dengan memindai QR Code produk melalui situs provenance.org.

Adapun, perjalanan kopi tersebut dimulai sejak petani menurunkan biji kopi di pusat pengumpulan atau di gudang.

Berdasarkan data International Coffee Organization, Uganda merupakan pengekspor kopi terbesar di Afrika serta memiliki beberapa biji kopi berkualitas tinggi.

Di negara tersebut kopi jenis robusta lebih dominan ditanam, meski terdapat sebagian pohon kopi berjenis arabika.

Pemerintah Uganda targetkan peningkatan ekspor kopi yang saat ini sebanyak 4 juta kantong kopi atau setara 240.000 ton. Terbatasnya kapasitas pemprosesan di Uganda membuat sebagian besar biji kopi diekspor dalam bentuk mentah.

Tag : kopi, blockchain
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top