Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tsunami Anyer, BPPT Kembali Ingatkan Pentingnya Alat Deteksi

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui tim dari Pusat Teknologi Reduksi dan Risiko Bencana tengah melakukan pengkajian di wilayah terdampak bencana tsunami Anyer.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 23 Desember 2018  |  14:37 WIB
Warga berjalan di samping atap rumah miliknya yang roboh setelah diterjang gelombang tinggi di Kampung Cikadu, Kecamatan Tanjung Lesung, Pandeglang, Minggu (23/12/18). BPBD setempat melaporkan jumlah korban meninggal dunia 13 orang dan ratusan lainya mengalami luka-luka serta 400 lebih rumah warga di pinggir pantai roboh akibat terjangan gelombang pasang dan ombak setinggi hingga 5 meter Sabtu (22/12) malam. - ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Warga berjalan di samping atap rumah miliknya yang roboh setelah diterjang gelombang tinggi di Kampung Cikadu, Kecamatan Tanjung Lesung, Pandeglang, Minggu (23/12/18). BPBD setempat melaporkan jumlah korban meninggal dunia 13 orang dan ratusan lainya mengalami luka-luka serta 400 lebih rumah warga di pinggir pantai roboh akibat terjangan gelombang pasang dan ombak setinggi hingga 5 meter Sabtu (22/12) malam. - ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui tim dari Pusat Teknologi Reduksi dan Risiko Bencana tengah melakukan pengkajian di wilayah terdampak bencana tsunami Anyer.

Deputi tTeknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Hammam Riza mengatakan tsunami yang terjadi di Anyer kembali menyadarkan masyarakat akan pentingnya teknologi yang mampu mengurangi dampak kebencanaan.

“Sesegera mungkin, Indonesia harus membangun fasilitas alat deteksi tsunami. Dalam hal ini BUOY Tsunami maupun CBT atau Cable Based Tsunameter," ungkapnya melalui keterangan resmi, Minggu (23/12/2018).

BPPT sebagai salah satu aset pemerintah dalam bidang teknologi, lanjutnya, merasa perlu mengoptimalkan peran Teknologi bagi kesiapan dalam menghadapi bencana.

"Kami siap jika diminta untuk segera membangun kembali fasilitas alat deteksi dini tsunami, baik BUOY maupun CBT," ujarnya.

Hammam juga menyatakan dalam penanggulangan bencana jangan melulu disibukkan dengan upaya penanganan pascagempa, sementara upaya antisipasi masih sangat minim, bahkan belum menjadi fokus perhatian.

"Kita perlu membangun kemandirian teknologi peringatan dini (early warning system) sebagai komponen pembangunan nasional," jelasnya.

Saat ini, ujar Hammam, BPPT telah memiliki berbagai teknologi yang siap digunakan untuk mengantisipasi bencana gempa bumi serta tsunami.

"Kita harus lebih advance dalam mengantisipasi bencana dengan menggunakan teknologi. Selain itu, sinergi dan komitmen yang kuat antarberbagai pemangku kepentingan juga dibutuhkan. Teknologi mampu  berperan signifikan dalam upaya mengurangi risiko bencana,” tegasnya.

Sementara itu, pakar tsunami BPPT Widjo Kongko yang melakukan kaji cepat mengungkapkan ada indikasi bahwa tsunami tersebut disebabkan oleh erupsi Anak Krakatau.

"Kemungkinan besar terjadi flank failure/collapse akibat aktivitas Anak Krakatau petang ini dan akhirnya menimbulkan tsunami," ujarnya.

Widjo menambahkan, jika benar hal itu menjadi penyebab, maka fenomena ini diduga berpotensi berulang. 

"Aktivitas Anak Krakatau belum selesai dan flank atau collapse yang terjadi bisa memicu ketidakstabilan berikutnya," jelasnya.

Hammam menyebutkan pihaknya akan terlibat dalam mencari penyebab dan solusi atas bencana tsunami Anyer.

BPPT juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan siaga dengan mengikuti instruksi aparat yang berwenang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tsunami Tsunami Anyer
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top