Politik Uang Seperti Hantu

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tadulako Palu, Sulawesi Tengah, Dr Irwan Waris mengemukakan praktik politik uag merupakan tindakan seperti `hantu`.
Newswire | 08 Desember 2018 19:46 WIB
Mahasiswa melakukan teatrikal ketika menggelar aksi Lawan Politik Uang di Jalan Urip Sumoharjo Solo, Jawa Tengah, Selasa (26/6). - Antara

Bisnis.com, PALU - Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tadulako Palu, Sulawesi Tengah, Dr Irwan Waris mengemukakan praktik politik uag merupakan tindakan seperti `hantu`.

"Bahaya politik uang seperti hantu, bahkan bisa lebih hebat dari hantu. Saya tidak pernah melihat hantu, cuma mendengarnya. Tidak sering kali melihat praktik politik uang, cuma mendengarnya dan sulit dibuktikan," ucap Irwan Waris di Palu, Sabtu (8/12/2018).

Pakar Ilmu Politik Untad Palu itu mengaku bahwa dirinya telah melakukan penelitian terhadap praktik dan bahaya politik uang selama dua tahun. Penelitian dilakukan tahun 2016 dan tahun 2017.

Irwan menjadikan tiga daerah sebagai sampel dalam penelitiannya yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong.

Masyarakat, ujarnya, memahami dan mengetahui tentang bahaya politik uang termasuk melakukan hal itu. Anehnya, hingga saat ini tidak ada satu-pun pihak yang melakukan praktik politik uang dapat diseret ke ranah hukum.

"Tapi tidak ada satu-pun yang bisa diseret, menjadi pelanggaran pemilu," sebut Irwan Waris.

Masyarakat Permisif

Direktur Pusat Studi Pemilu dan Partai Politik Untad Palu itu mengemukakan, berdasarkan hasil penelitiannya bahwa masyarakat cenderung bersikap `permisif` terhadap kegiatan atau praktik uang dalam pemilu yakni ada anggapan bahwa praktek politik uang merupakan sesuatu yang lumrah.

"Ada kebiasaan di masyarakat bahwa, ketika ada politisi yang datang terus tidak membawa atau memberi sesuatu, maka dianggap tidak biasa, bahkan dianggap pelit oleh masyarakat," urai Irwan Waris.

Ia menjelaskan anggapan dan kebiasaan itu, ternyata ada sejarahnya. Karena masyarakat kita adalah masyarakat `parton klien` yang melahirkan budaya paternalistik.

"Pada zaman dahulu, zaman kerajaan, pemimpin memberi sesuatu kepada masyarakat, dan masyarakat membalasnya dengan loyalitas," kata dia.

Budaya seperti itulah yang terjadi saat ini dalam dunia perpolitikan termasuk di pemilu. Namun ada perbedaan, pada zaman dahulu pemimpin yang menggerakkan masyarakat dengan kemampuan ekonomi, mereka itu adalah orang yang baik, jujur, adil, yang dapat dipercaya. sehingga masyarakat loyal.

“Kalau sekarang mereka yang memberi uang kepada rakyat, akan tetapi tidak diketahui uangnya dari mana. Banyak dari mereka ini adalah `bandit`, yang berusaha masuk dalam ranah kekuasaan. Ketika mereka berkuasa mereka menyalahgunakan kekuasaannya," katanya.

Irwan Waris menuturkan, hampir setiap hari KPK menangkap kepala daerah, bahkan tangkap tangan. Hal itu, menurut dia, menujukkan bahwa banyak diantara para pemimpin ialah orang-orang yang `tidak benar`.

 

Sumber : Antara

Tag : politik, politik uang
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top