Aksi KKB di Nduga Pernah Membuat Pilkada Papua Tertunda

Kabupaten Nduga, Provinsi Papua, menjadi perhatian khalayak lagi lantaran situasi keamanan daerah itu yang kembali mencekam.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 04 Desember 2018  |  16:55 WIB
Aksi KKB di Nduga Pernah Membuat Pilkada Papua Tertunda
Petugas KPU Mimika menyortir buku panduan, formulir isian dan kotak suara Pilkada Papua di Gedung Eme Neme Yauware, Timika, Papua, Sabtu (23/6). - ANTARA FOTO / Spedy Paereng

Kabar24.com, JAKARTA — Kabupaten Nduga, Provinsi Papua, menjadi perhatian khalayak lagi lantaran situasi keamanan daerah itu yang kembali mencekam.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebanyak 31 pekerja PT Istaka Karya (Persero) diduga telah dibunuh oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Yigi, Minggu (2/12/2018). Para pekerja itu berada di Yigi untuk mengerjakan proyek pembangunan jembatan di Kali Yigi dan Kali Auruk.

Aksi KKB mengganggu keamanan di Nduga bukan kali ini saja terjadi. Salah satu gangguan yang sempat menyita perhatian adalah menjelang pemilihan kepala daerah serentak 2018.

Pada Senin (25/6/2018) atau 2 hari sebelum pemungutan suara Pemilihan Gubernur Papua 2018, KKB menembaki pesawat Trigana Air sehingga melukai pilot Ahmad Khamal. Selain pesawat, KKB menganiaya warga sipil yang mengakibatkan tewasnya tiga orang dewasa dan luka serius satu anak-anak.

Aksi penembakan itu membuat distribusi logistik pilkada via udara terganggu. Trigana Air adalah maskapai yang digunakan penyelenggara pillkada untuk mengangkut logistik ke distrik-distrik terpencil di Nduga.

Menurut Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Papua Metusalak Infandi dalam sidang sengketa Pilgub Papua di Mahkamah Konstitusi, aksi KKB itu membuat pemungutan suara 27 Juni hanya berlangsung di tiga distrik yakni Distrik Mbua, Distrik Mbulmu Yalma, dan Distrik Dal. Kebetulan, tiga daerah itu mendapatkan kiriman logistik langsung dari Wamena.

Keesokan harinya, barulah 29 distrik lainnya menggelar pemungutan suara. Hasil rekapitulasi menunjukkan bahwa pasangan Lukas Enembe-Klemen Tinal menang dengan mendapatkan 62.814 suara berbanding 31.402 suara yang diperoleh Wempi Wetipo-Habel Melkias Suwae.

Eksistensi KKB di Nduga terkait erat dengan isu separatisme di daerah itu. Bahkan, pasangan Wempi-Habel sempat menuduh Bupati Nduga Yarius Gwijangge mengajak warganya memilih Lukas-Klemen untuk mewujudkan kemerdekaan Papua. Namun, tudingan itu dibantah oleh Bupati.

Menurut keterangan resmi Polri, pelaku penembak pesawat dan penganiaya warga di Nduga menjelang pilkada adalah kelompok Melodi Enumbi dan Terinus Enumbi. Keduanya bagian Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka.

Adapun, pelaku pembunuhan terhadap 31 pekerja Istaka Karya belum diumumkan secara resmi. Hingga Selasa (4/12/2018) sore belum ada keterangan resmi dari aparat keamanan. Bahkan, angka korban jiwa pun masih simpang siur kendati aksi pembunuhan terjadi pada dua hari lalu.

Entah apa motivasi sebenarnya dari para KKB di Nduga. Setelah berhasil membuat pilkada tertunda, kali ini kelompok separatis itu membuat pembangunan jembatan, yang sangat dibutuhkan warga Nduga, dihentikan sementara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
papua, pilkada, penembakan

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top