Bos Nissan, Carlos Ghosn Ditangkap di Jepang

Pemimpin perusahaan otomotif Nissan, Carlos Ghosn ditahan oleh otoritas Jepang atas dugaan penyelewengan keuangan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 20 November 2018  |  10:37 WIB
Bos Nissan, Carlos Ghosn Ditangkap di Jepang
Carlos Ghosn - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pemimpin perusahaan otomotif Nissan, Carlos Ghosn ditahan oleh otoritas Jepang atas dugaan penyelewengan keuangan.

Pemimpin Ekskutif Nissan Hiroto Saikawa mengatakan Ghosn juga akan dipecat dari posisinya setelah dewan pimpinan Nissan mengadakan pertemuan pada Kamis (22/11/2018).

“Tanpa banyak kata, perbuatan ini tidak bisa ditoleransi oleh perusahaan," kata Saikawa dilansir dari The New York Times pada Senin (19/11/2018).

Saikawa yang berbicara selama 90 menit di sebuah konferensi pers yang diselenggarakan di kantor pusat Nissan di Yokohama mengemukakan bahwa Ghosn dan Greg Kelly, seorang direktur yang juga ditangkap kemarin, adalah dalang dari sebuah skema lama untuk menghindari otoritas keuangan.

Dilansir dari BBC pada Senin (19/11/2018), Ghosn dituduh melakukan sejumlah penyelewengan, di antaranya pemalsuan laporan keuangan dan menggunakan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi.

Ia dianggap sebagai sosok berpengaruh di Nissan karena menyelamatkan perusahaan itu melalui pembentukan aliansi dengan Renault. Ghosn juga membawa gebrakan di dunia otomobil dengan pemikiran bahwa perusahaan pembuat mobil dapat berbagi teknologi. Namun nasibnya kini di ujung tanduk usai penyelidikan internal perusahaan menemukan bahwa ia tidak melaporkan kompensasinya kepada pemerintah Jepang selama beberapa tahun.

Bekerja sama dengan jaksa Jepang, Nissan menyebut penyelidikan terhadap Ghosn dimulai setelah seorang whistle blower melaporkan bahwa Ghosn tidak melaporkan gaji sebenarnya dan menggunakan aset perusahaan untuk tujuan pribadi.

Sebagai warga negara Prancis, penghasilan Ghosn sempat menjadi pertanyaan publik setempat pada tahun 2016 dan 2017, termasuk oleh pemerintah Prancis sebagai pemegang saham Renault. Ghosn kemudian setuju 30% gajinya dipotong sebagai jaminan jabatan selama 4 tahun sebagai pemimpin eksekutif perusahaan itu.

Penghasilan Ghosn selama ini memang kerap menjadi perdebatan. Pada tahun 2016, Renault ditekan oleh Menteri Keuangan Prancis saat itu, Emmanuel Macron untuk menurunkan kompensasi Ghosn. Renault kemudian mengajukan penurunan kompensasi senilai US$8,5 juta yang ditolak pemerintah Prancis namun diterima oleh pemegang saham lain.

Sementara itu, Ghosn dikabarkan menerima gaji yang tinggi di Jepang dibanding eksekutif lain di negara tersebut. Eksekutif perusahan di Jepang biasanya berpenghasilan lebih rendah dibanding Eropa dan Amerika. Contohnya adalah Takeshi Uchiyamada, pemimpin Toyota yang dibayar 181 juta yen pada 2017, berbeda jauh dengan Ghosn yang dilaporkan memperoleh penghasilan 735 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nissan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top