Facebook Akui Belum Berhasil Tangkal Penyebaran Konten Kebencian di Myanmar

Facebook Inc mengakui seharusnya dapat melakukan lebih banyak hal untuk mencegah penyebaran ujaran kekerasan di Myanmar, terutama terhadap etnis Rohingya.
Annisa Margrit | 06 November 2018 10:59 WIB
Logo Facebook dalam 3 dimensi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Facebook Inc mengakui seharusnya dapat melakukan lebih banyak hal untuk mencegah penyebaran ujaran kekerasan di Myanmar, terutama terhadap etnis Rohingya.

Manajer Kebijakan Produk Facebok Alex Warofka mengatakan pihaknya telah mendapatkan laporan dari Business for Social Responsibility (BSR), sebuah lembaga non profit asal San Fransisco, AS.

Laporan tersebut merekomendasikan perusahaan media sosial itu untuk menerapkan kebijakan yang lebih ketat atas konten-konten yang disebarkan, meningkatkan kemitraan dengan pejabat Myanmar dan kelompok sipil, serta merilis data rutin mengenai perkembangan mereka di Myanmar.

BSR juga menyatakan bahwa Facebook harus bersiap menghadapi penyebaran informasi yang menyimpang terkait Pemilu di Myanmar pada 2020 serta tantangan dari pertumbuhan penggunaan WhatsApp—yang juga dimiliki Facebook—di negara Asia Tenggara ini.

“Laporan tersebut menyimpulkan bahwa, tahun lalu, kami tidak melakukan langkah yang cukup untuk membantu mencegah platform kami digunakan untuk menciptakan perpecahan dan memicu kekerasan offline. Kami sepakat bahwa kami akan dan seharusnya melakukan lebih,” paparnya seperti dilansir Reuters, Selasa (6/11/2018).

Pada Agustus 2018, Facebook menghapus akun beberapa pejabat tinggi militer Myanmar untuk mencegah penyebaran kebencian dan informasi yang menyimpang. Selain itu, ada lusinan akun lain yang juga dihapus karena dinilai ikut serta dalam kampanye yang mendukung militer Myanmar.

Pada kuartal III/2018, perusahaan asal AS itu mengaku telah melibatkan 99 ahli bahasa Myanmar untuk mengkaji konten yang  disebarkan. Facebook juga mengambil kebijakan khusus atas sekitar 64.000 konten yang melanggar kebijakan ujaran kebencian perusahaan.

Facebook tercatat memiliki sekitar 20 juta pengguna di Myanmar.

Sejak Agustus 2017, sekitar 800.000 warga Rohingya dari Myanmar—terutama negara bagian Rakhine—mengungsi ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari kekerasan yang dilakukan militer Myanmar.

Namun, Pemerintah Myanmar mengklaim aksi tentara dipicu oleh serangan dari kelompok militan Rohingya terhadap pos-pos militer.

Pemerintah Myanmar dan Pemerintah Bangladesh juga telah sepakat untuk mulai memulangkan sebagian warga Rohingya ke daerah asal mereka pada akhir tahun ini. Meski demikian, sejumlah pihak menilai langkah ini masih membutuhkan waktu karena warga Rohingya masih belum siap kembali dan tempat yang menjadi relokasi mesti dipastikan aman serta memiliki fasilitas yang layak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
facebook, rohingya

Sumber : Reuters
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top