Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Korsel-Korut, dan PBB Bahas Demiliterisasi Perbatasan Negara

Kementerian pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara, Korea Selatan dan Pimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengadakan pertemuan tiga-arah pertama mereka untuk membahas demiliterisasi perbatasan antara kedua Korea.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 16 Oktober 2018  |  08:43 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berjabat tangan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in karena keduanya tiba untuk pertemuan antar-Korea di desa gencatan senjata Panmunjom, dalam bingkai masih diambil dari video, Korea Selatan 27 April 2018. - Reuters
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berjabat tangan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in karena keduanya tiba untuk pertemuan antar-Korea di desa gencatan senjata Panmunjom, dalam bingkai masih diambil dari video, Korea Selatan 27 April 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara, Korea Selatan dan Pimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengadakan pertemuan tiga-arah pertama mereka untuk membahas demiliterisasi perbatasan antara kedua Korea.

Para pemimpin kedua Korea bulan lalu mengesahkan pakta militer yang mencakup menghentikan latihan militer, zona larangan terbang di dekat perbatasan mereka dan penghapusan secara bertahap ranjau darat dan pos penjaga di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ).

Kantor berita Yonhap mengutip para pejabat kementerian itu menyebutkan, pertemuan pada Selasa waktu setempat akan mengevaluasi kemajuan dalam menghapus ranjau darat dan pos penjaga, penyesuaian peralatan pengawasan perbatasan, dan cara-cara untuk saling memverifikasi upaya demiliterisasi.

"Pertemuan tertutup itu akan diadakan di desa perbatasan Panmunjom dan dihadiri oleh tiga perwakilan dari masing-masing pihak, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataannya," tulis laporan yang dilansir Reuters, Selasa (16/10/2018).

Kedua Korea sepakat untuk mulai menghubungkan kembali hubungan kereta api dan jalan, langkah lain dalam hubungan yang membaik terlepas dari kekhawatiran AS bahwa pencairan Utara-Selatan yang cepat dapat merusak upaya untuk menekan Korea Utara agar menyerahkan senjata nuklirnya.

Korea Utara dan Selatan yang kaya dan demokratis secara teknis masih berperang karena Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Korea Utara korea selatan
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top