Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KPU dan Bawaslu Enggan Urusi Dana Saksi Pemilu

Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu sebagai penyelenggara pemilu enggan mengurusi dana saksi.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 16 Oktober 2018  |  21:20 WIB
KPU dan Bawaslu Enggan Urusi Dana Saksi Pemilu
Saksi diperlukan saat proses pemungutan hingga rekapitulasi hasil suara dalam pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden.

Bisnis.com, JAKARTA – Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu sebagai penyelenggara pemilu enggan mengurusi dana saksi.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan bahwa instansinya sudah memiliki urusan yang cukup banyak dan uang tersebut memiliki beban luar biasa besar.

“Saya menghitung kalo dana saksi per saksi Rp200.000 ada 2,5 juta, itu bukan hal yang mudah mengelola uang demikian besar dan mempertanggungjawabkannya,” katanya di Gedung Dewan Perwakil Rakyat, Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Pertimbangan lainnya adalah KPU tidak berwenang mengurusi masalah anggaran sehingga tidak akan terlibat dalam urusan ini.

“Kalau ditaruh di KPU, urusan KPU sudah terlalu banyak,” ucap Arief.

Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan akan menunggu keputusan tersebut apakah akan disahkan atau tidak.

“Undang-undang hanya memberikan amanat untuk memberikan pelatihan kepada saksi,” jelasnya.

Sementara itu Abhan menilai pengelolaan dana saksi lebih tepat dikelola oleh pemerintah.

Sebelumnya, Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan dana saksi dibayarkan penuh oleh pemerintah dan masuk ke dalam Anggaran Pendapat dan Belanja Negara 2019.

Ide ini muncul berdasarkan pertimbangan tidak semua partai memiliki dana yang cukup untuk membayar semua saksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kpu bawaslu Pemilu 2019
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top