Saat Presiden Jokowi Singgung Isu PKI di Forum LDII

Presiden Joko Widodo meresmikan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Tahun 2018 di Pondok Pesantren Minhajur-Rosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Jakarta, Rabu (10/10/2018).
Yodie Hardiyan | 10 Oktober 2018 18:24 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila, Jakarta, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Kabar24.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo meresmikan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Tahun 2018 di Pondok Pesantren Minhajur-Rosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Dalam acara tersebut, seperti acara-acara lain yang pernah dihadirinya, Presiden menyampaikan pidato di hadapan para hadirin yang sebagian merupakan peserta Rakernas organisasi Islam yang memiliki banyak cabang di Indonesia ini.

Isi pidato Presiden kali ini hampir sama dengan isi pidato yang pernah disampaikannya dalam sejumlah kesempatan seperti mengenai kebesaran negara Indonesia, kerukunan masyarakat di tengah masa Pemilihan Umum sampai perkembangan teknologi informasi yang pesat dan sebagainya.

Selain topik tersebut, Presiden kembali menyinggung mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI), sebuah partai politik yang pernah menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia namun telah dibubarkan pada paruh kedua dekade 1960-an.

"Kembali menyinggung" isu tersebut berarti Presiden pernah dan berulang kali menyinggung isu tersebut dalam sejumlah kesempatan. Presiden merasa perlu menyinggung isu itu kemungkinan karena ada informasi, yang disebutnya sebagai hoaks, menyatakan bahwa dirinya adalah PKI.

Ya, Jokowi dituduh oleh sejumlah kalangan sebagai bagian dari PKI, melalui informasi yang disebarkan melalui media sosial, dimulai sejak dirinya mencalonkan diri sebagai calon presiden dalam Pemilihan Umum 2014 melawan mantan jenderal Angkatan Darat, Prabowo Subianto.

Informasi itu tampaknya masih sering disebarkan melalui media sosial empat tahun kemudian atau menjelang Pemilihan Presiden 2019 di mana dirinya akan kembali berkompetisi melawan rivalnya, Prabowo yang berpasangan dengan pengusaha, Sandiaga Uno, sehingga perlu diklarifikasi.

Presiden membantah hal tersebut sembari menyebutkan tahun kelahirannya pada 1961 dan membandingkan dengan tahun pembubaran partai berlambang palu-arit tersebut pada 1966. Menurutnya, tidak mungkin seorang balita atau anak kecil berumur 4 tahun menjadi anggota PKI.

Masih dalam pidato yang sama, Presiden Jokowi juga sampai merasa perlu menunjukkan sebuah gambar fotografi berwarna hitam-putih yang menunjukkan Dipa Nusantara Aidit, Ketua Umum PKI, sedang berpidato di hadapan massa.

Presiden mengatakan foto tersebut merupakan foto yang dibuat pada 1955. Dalam foto itu, Presiden mengklarifikasi tuduhan bahwa ada orang yang mirip dirinya yang berdiri di bawah podium D.N Aidit tersebut. "Astagfirullah," kata mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu.

Setelah menegaskan bahwa dirinya bukan PKI, Presiden juga menegaskan bahwa keluarganya bukan PKI. Apabila ada yang tidak percaya, Presiden minta mereka yang tak percaya untuk bertanya kepada lingkungan tempat tinggalnya di Solo, Jawa Tengah.

"Tanya saja di situ mengenai orangtua saya," kata Jokowi sambil menyebutkan bahwa di dekat rumahnya terdapat Masjid LDII.

Setelah mengklarifikasi informasi yang disebutnya sebagai hoaks itu, Presiden menyatakan bahwa banyak saudara-saudaranya yang merupakan LDII. Di hadapan para hadirin LDII, Presiden menyatakan bahwa sejumlah saudaranya ikut LDII, sebuah organisasi Islam di Indonesia yang cikal bakalnya dimulai sejak 1972.

Selain soal keikutsertaan para saudaranya di LDII, Presiden menyatakan dirinya selalu ingat dengan LDII. Salah satu penyebabnya selalu ingat dengan LDII adalah ketika berkunjung ke berbagai daerah Indonesia, Presiden melihat petunjuk arah yang menginformasikan kantor LDII, misalnya, "50 Meter LDII".

Situasi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa LDII berkiprah di mana-mana atau di banyak tempat. Pernyataan-pernyataan Presiden dengan nada memuji mengenai LDII dalam pidatonya itu disambut tepuk tangan oleh para hadirin.

Dalam kesempatan ini, Presiden mempertegas bahwa dirinya dan keluarganya merupakan Muslim. Sebagai pengingat, Jokowi pernah diserang dengan isu bahwa dirinya bukan seorang Muslim pada 4 tahun lalu atau pada Pemilihan Presiden 2014..

Menengok kembali sejumlah kehadiran dan pidato di sejumlah daerah, berdasarkan pengamatan Bisnis.com sejak awal 2018, Presiden sering, jika bukan sangat sering, menghadiri acara yang digelar oleh organisasi Islam baik di Jakarta dan sekitarnya atau provinsi-provinsi lain di seluruh Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan itu, dalam pidato yang disertai dengan potongan gambar presentasi, Presiden tidak jarang mengklarifikasi bahwa dirinya bukan PKI. Sepertinya isu PKI menjadi salah satu isu yang membuatnya gerah sehingga perlu diklarifikasi, berkali-kali, di tempat yang berbeda-beda.

Sikap Jokowi ini, sikap berusaha mengklarifikasi isu PKI dan menonjolkan identitas Muslim, kemungkinan masih akan terus berlanjut setidaknya sampai Pemilihan Presiden 2019 karena bukan tidak mungkin dirinya akan masih diserang dengan isu yang sama, isu yang sebenarnya belum terbukti berhasil menjegalnya terpilih sebagai Presiden Indonesia.

Tag : jokowi, LDII
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top