Menko Luhut dan IMF Serahkan Bantuan untuk Korban Gempa Lombok

Hari pertama rangkaian Annual Meetings IMF-World Bank Group (WBG) 2018 ditandai dengan kunjungan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Direktur Eksekutif IMF Christine Lagarde, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah ke Desa Guntur Macan di Lombok, NTB, Senin (8/10/2018).
Annisa Margrit | 08 Oktober 2018 17:35 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dMenteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, dan Direktur Eksekutif IMF Christine Lagarde mengunjungi para korban terdampak gempa Lombok, NTB, Senin (8/10). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Hari pertama rangkaian Annual Meetings IMF-World Bank Group (WBG) 2018 ditandai dengan kunjungan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Direktur Eksekutif IMF Christine Lagarde, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah ke Desa Guntur Macan di Lombok, NTB, Senin (8/10/2018).

Guntur Macan adalah salah satu desa yang mengalami dampak terparah dalam gempa Juli-Agustus 2018.

"Saya datang ke sini untuk menunjukkan kami tidak melupakan Lombok, bukan karena ada gempa di Sulawesi kami jadi lupa. Presiden [Joko Widodo] juga akan berkunjung ke sini setelah dari Bali," tutur Luhut dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.

Dia melanjutkan pemerintah sudah membangun lebih dari 23.000 rumah. Terkait bantuan yang belum turun, hal itu disebut sebagai masalah administrasi saja. 

Luhut menerangkan bisa jadi ada masalah pertanggungjawaban yang belum rampung. Menurutnya, jangan sampai bantuan bencana justru membuat seseorang masuk penjara. 

Sebelumnya, dia dan rombongan IMF sudah lebih dulu berkunjung ke Palu untuk meninjau kondisi di wilayah itu pascabencana pada Jumat (28/9). 

"Dari peristiwa ini, kami akan memberikan usulan topik pembicaraan yaitu bagaimana penanganan masalah bencana yang kalau bisa pendanaannya itu bukan saja dari negara bersangkutan, seperti kita asuransikan. Formatnya sedang disusun oleh Menteri Keuangan dan kebetulan juga ada Ibu Lagarde, jadi beliau bisa bantu menyampaikannya di pertemuan tersebut," papar Luhut. 

Dia menyebutkan biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk penanganan bencana bisa mencapai Rp22 triliun dalam setahun. Untuk itu, pemerintah akan melihat apakah hal ini bisa diasuransikan sehingga dapat ditanggung bersama.

Sementara itu, Sri Mulyani menjelaskan pengelolaan tanggap bencana mesti dilakukan dengan sangat hati-hati. Saat ini, landasan hukumnya sedang diselesaikan. 

"Apakah dengan bencana Palu, dana pemerintah habis? Jawabannya tidak. Untuk Palu, sesuai kebutuhan, untuk Lombok pun tetap untuk Lombok. Untuk dana Annual Meetings IMF-WBG, Pak Luhut sudah menggunakannya dengan hati-hati," tegasnya.

Adapun bantuan bagi korban bencana akan dicairkan secara bertahap. Perinciannya, rumah yang rusak berat mendapat Rp50 juta, rumah yang rusak sedang Rp25 juta, dan rumah yang rusak ringan Rp10 juta.

Luhut menerangkan kedatangan rombongan ke Lombok sekaligus menunjukkan bahwa Annual Meetings IMF-WBG 2018 bukan merupakan ajang pesta dan berutang seperti yang banyak disampaikan. 

Hal senada disampaikan Lagarde. Dia juga meyakini tidak membutuhkan utang, saat ini.

Ketika Indonesia dipilih sebagai tuan rumah pertemuan tahunan ini, tidak ada yang memprediksi akan terjadi bencana alam. Membatalkan pertemuan di Bali pun diyakini malah akan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan upaya persiapan yang sudah dilakukan menjadi sia-sia. 

"Apakah Indonesia mau menerima pinjaman dari IMF? Jawabannya tidak, karena ekonomi Indonesia sekarang berada di tangan yang sangat baik," ucap Lagarde.

Pemerintah menyatakan ada banyak manfaat yang dapat diambil dari kegiatan ini, di antaranya yang terkait proyek infrastruktur dan pariwisata. 

Dalam kunjungan ke Lombok, Lagarde menyerahkan sumbangan sebesar Rp2 miliar dari para karyawan IMF. Dana tersebut juga ditujukan untuk para korban bencana di Palu. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyampaikan bahwa Lombok sekarang sedang dalam penanganan transisi darurat ke pemulihan. Groundbreaking rumah dan bantuan korban pun segera dicairkan.

Per 1 Oktober 2018, jumlah korban meninggal akibat gempa di NTB dan sekitarnya mencapai 564 orang sedangkan korban luka-luka sebanyak 1.584 orang. Adapun jumlah rumah yang rusak menyentuh 167.961 rumah.

Tag : gempa lombok, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top