Inikah Penyebab Gempa Palu, Donggala, dan Lombok?

Dalm dua bulan terakhir, Agustus dan September, 2 wilayah di Indonesia diguncang gempa bumi bermagnitudo besar.
I Ketut Sawitra Mustika, Budi Cahyana | 29 September 2018 23:52 WIB
Menteri Sosial Agus Gumiwang menggendong seorang anak yang terlepas dari orangtuanya saat tsunami di Palu. Ia ditemukan warga di saluran air dan diobati, lalu diserahkan ke Polda Palu saat Panglima TNI meninjau langsung korban gempa Palu, Sabtu (29/9). - Istimewa2018).

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Dalam dua bulan terakhir, Agustus dan September, 2 wilayah di Indonesia diguncang gempa bumi bermagnitudo besar.

Pada Jumat (28/9/2018), gempa bumi 7,4 SR mengguncang Sulawesi Tengah dan sedikitnya 384 orang meninggal, 29 orang hilang di Kelurahan Pantoloan Induk, Kota Palu, dan 540 luka berat menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (29/9).  

BNPB mencatat gempa susulan masih terus berlangsung di Sulawesi Tengah pascagempa7,4 SR pada Jumat (28/9/2018). Tercatat sebanyak 131 kejadian gempa susulan yang bersumber dari aktivitas sesar Palu-Koro pada Sabtu (29/9/2018).

Sementara, gempa bermagnitudo besar juga terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (19/8/2018). Kali ini, gempa berkekuatan magnitudo 7. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, pusat gempa adalah 30 kilometer di timur laut Lombok Timur, NTB.

Lalu, apa penyebab gempa di Sulawesi Tengah dan di NTB?

Sudah Memprediksi

Dua ilmuwan Amerika Serikat, Roger Bilham dari University of Colorado dan Rebecca Bendick dari University of Montana sudah memprediksi peningkatan jumlah gempa dengan magnitudo di atas 7,0 pada tahun ini.

Menurut keduanya, perlambatan rotasi Bumi menyebabkan intensitas lindu besar meningkat. Penelitian itu dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Geological Society of America pada Oktober 2017.

Pengamat kegempaan dari Universitas Islam Indonesia (UII) Profesor Sarwidi mengatakan kajian Bilham dan Bendick masih membutuhkan pembuktian.

“Kan 2018 belum selesai. Nanti bisa dibandingkan dengan tahun lalu dan tahun sebelumnya, apakah gempanya lebih banyak atau tidak. Saya menunggu studi sejenis supaya ada pembanding. Ada enggak yang kesimpulannya sama,” ujar Sarwidi kepada Harian Jogja melalui sambungan telepon, Senin (20/8/2018).

Perlu Dibuktikan

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Jogja Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika BMKG DIY I Nyoman Sukanta mengungkapkan setiap peneliti selalu punya dasar yang kuat dalam membangun pernyataan. Namun, sama seperti Sarwidi, ia menyatakan perlu ada pembuktian lebih lanjut terhadap studi Bilham dan Bendick.

Menurut dia, sumber-sumber gempa Bumi sudah dipetakan dengan cukup baik oleh para ahli.

“Daerah batas lempeng dan sesar lokal merupakan sumber-sumber gempa yang dapat terjadi gempa kapan saja, untuk itu masyarakat harus dapat menyadari potensi bencana gempa di wilayahnya sehingga dapat melakukan mitigasi dengan baik agar risiko korban jiwa dan kerugian harta benda dapat diminimalkan,” ujar Nyoman.

Rotasi Bumi Melambat

Sebagaimana dikutip dari The Guardian, Bilham mengatakan rotasi Bumi sangat berkorelasi dengan aktivitas kegempaan. Menurut dia, pada tahun ini, rotasi Bumi melambat dan diikuti peningkatan jumlah lindu yang kuat.

“Rotasi Bumi sedikit berubah, terkadang satu milidetik per hari, dan itu bisa diukur dengan sangat akurat oleh jam atom,” kata Bilham.

Dalam studinya, Bilham dan Bendick mengkaji gempa berkekuatan di atas magnitudo 7,0 sejak 1900 hingga 2017. Menurut mereka, terdapat lima periode ketika lindu besar sangat sering terjadi dalam satu tahun dan itu berhubungan dengan perlambatan rotasi Bumi yang terjadi tiap lima tahun sekali.

Dalam kurun waktu tersebut, lindu di atas magnitudo 7,0 terjadi 25 sampai 30 kali sepanjang tahun. Sementara, ketika rotasi Bumi tidak melambat, gempa besar hanya terjadi 15 kali dalam satu tahun. Keduanya kemudian memprediksi tahun ini bakal banyak terjadi gempa besar berdasarkan studi tersebut.

“Bumi memberi tanda kepada kita tiap lima tahun untuk menghadapi kemungkinan gempa,” ucap Bilham.

Teknologi Tak Bisa Prediksi

Sejauh ini, tak ada teknologi maupun pendekatan ilmiah yang bisa memperkirakan di mana dan kapan gempa akan mengguncang. Namun, berdasarkan telaah Bilham dan Bendick, intensitas gempa yang berkaitan dengan perubahan rotasi Bumi kemungkinan akan terjadi di dekat khatulistiwa.

Kawasan ini, termasuk Indonesia, menjadi tempat tinggal satu miliar orang dan mereka semestinya bisa beradaptasi dengan lingkungan yang sangat rawan lindu.

US Geological Survey mencatat 74 gempa dengan magnitudo di atas 3 dari Januari sampai pertengahan Agustus tahun ini. Tujuh lindu ini bermagnitudo 7,0. Lindu besar pertama bermagnitudo 7,5 di Honduras pada 10 Januari.

Pada Agustus, sudah ada dua lindu bermagnitudo di atas 7,9, yakni pada 5 Agustus di Lombok dengan magnitudo 7,0 dan Minggu (19/8/2018) di Hawaii dengan magnitudo 8,2.

Pada awal Agustus 2018, Lombok juga diguncang gempa besar pada malam hari. Awalnya BMKG merilis lindu tersebut berkekuatan magnitudo 7,0, tetapi kemudian merevisinya dan menyatakan gempa tersebut bermagnitudo 6,9. Jumlah lindu besar dalam delapan bulan terakhir sudah menyamai lindu besar yang terjadi sepanjang tahun lalu.

 

Sumber : Harian Jogja

Tag : gempa, bmkg, Gempa Palu
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top