Indonesia Tuan Rumah Konferensi Islam Dunia AICIS 2018

Setelah acara Asian Games ke 18 dan menjelang 2018 IMF International Monetary Fund (IMF) serta Asian Paragames ke 3 pada bulan Oktober 2018, Indonesia akan kembali kembali menjadi tuan rumah event dunia.Acara event dunia yang akan diadakan di Indonesia adalah Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2018.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 13 September 2018 15:45 WIB
Conference on Islamic Studies (AICIS) 2018 - Dok.Kemenag

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah acara Asian Games ke-18 dan menjelang 2018 IMF International Monetary Fund (IMF), serta Asian Paragames ke-3 pada bulan Oktober 2018, Indonesia akan kembali kembali menjadi tuan rumah event dunia.

Acara berkelas dunia yang akan diadakan di Indonesia adalah Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2018. Event tiga hari ini akan dilaksanakan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, pada 17-20 September 2018.

Konferensi ini merupakan pertemuan para ilmuwan dan akademisi studi Islam dalam rangka memecahkan persoalan keislaman saat ini. Sidang AICIS diselenggarakan untuk mencari masukan-masukan yang membangun bagi peradaban Islam yang lebih baik bagi dunia.

“Saat ini dunia masih mengalami kesulitan dalam memahami Islam, terutama karena adanya kontradiski antara ajaran Islam dengan perilaku sebagian penganutnya. Kampanye ISIS yang terus menerus melawan kemanusiaan telah membuat citra Islam merosot di mata dunia,” kata Arskal Salim, Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis dari Kemenag, Kamis (13/9/2018).

Arskal menjelaskan, saat ini di Irak dan Suriah ada kelompok ekstremisme ISIS yang terus-menerus menebar ancaman dan teror ke seluruh penjuru dunia. Hal-hal semacam itu membuat orang-orang barat mengidentifikasi Islam sebagai agama teror dan kekerasan.

“Seringkali orang-orang barat memiliki pandangan bahwa Islam itu direpresentasikan oleh negara-negara Arab yang sedang berkonflik dengan mengenyampingkan Indonesia, serta Kawasan Asia Tenggara sebagai kantong muslim besar dunia,” tutur Arskal.

Asia Tenggara merupakan wilayah yang didiami oleh 25% penduduk muslim dunia yang berjumlah 1,6 miliar jiwa. Dengan porsi sebesar itu kawasan Asia Tenggara sebenarnya memainkan peran sentral dalam dinamika dunia islam di muka bumi ini.

“Asia Tenggara sebenarnya dapat menjadi salah satu representasi dunia Islam yang memiliki perbedaan besar dengan Timur Tengah. Kawasan ini juga menampilkan success story tentang keberhasilan moderasi Islam di tengah tekanan radikalisme yang mengglobal,” kata Arskal.

Menurutnya, negara-negara Islam di asia Tenggara, terutama Indonesia banyak melahirkan pemikiran baru dalam hal budaya, sosial, ekonomi, arsitektur, serta pola hubungan antara mayoritas-minoritas yang erat kaitannya dengan Islam.

“Kita sangat kaya akan khazanah keislaman yang belum tergali dengan sempurna,” lanjutnya. 

Adanya gap antara ajaran Islam dan perilaku penganutnya di berbagai belahan dunia ini menjadi tema sentral sidang AICIS yang mengambil tema “Islam Di Asia Tenggara Dan Dunia Global: Teks, Pengetahuan Dan Praktek,”.

Yang menarik, praktik keislaman di Asia Tenggara akan menjadi kajian utama yang dibedah dalam berbagai disiplin ilmu. Di Asia Tenggara, Islam sukses dinegosiasikan dengan modernitas global menjadi bentuk yang ramah dan menarik.

Sebanyak 1.700 pakar dan praktisi dunia islam akan terlibat dalam jual beli ide-ide baru tentang islam di zaman yang berubah ini. Pembicara kunci dalam forumn ini adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan pakar studi Islam Dominik Muller, Ph.D dari Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman.

Tag : islam
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top