AGENDA KTT PUNCAK: Hal Serupa di G7 Dikhawatirkan Terjadi Lagi di NATO

Sikap Presiden AS Donald Trump setelah pertemuan pemimpin negara kelompok 7 (G7) di Kanada menimbulkan pertanyaan terkait komitmennya dengan para mitra terdekat. Adapun pertemuan mereka selanjutnya akan memberikan jawaban
Dwi Nicken Tari | 12 Juni 2018 12:30 WIB
Saat perhelatan G7. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Sikap Presiden AS Donald Trump setelah pertemuan pemimpin negara kelompok 7 (G7) di Kanada menimbulkan pertanyaan terkait komitmennya dengan para mitra terdekat. Adapun pertemuan mereka selanjutnya akan memberikan jawaban.

Trump dijadwalkan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Traktat Atlantik Utara (NATO) pada 11-12 Juli 2018 di Brussels. Pertemuan itu akan menegaskan kembali kemitraan trans-Atlantik.

Tujuan itu sudah dibuat sebelum Trump keluar dari kesepakatan G7 mengenai perdagangan, mencela PM Kanada Justin Trudeau, dan menuduh Jerman menghabiskan anggaran militer AS.

Martin Quencez, Senior Program Officer di German Marshall Fund of the U.S. menyatakan, Trump telah  mengejutkan sekutunya dengan isu perdagangan selama beberapa bulan belakangan ini.

Oleh karena itu, penolakan AS untuk menegaskan kembali komitmennya terhadap NATO diperkirakan dapat melemahkan hubungan organisasi tersebut.

“Sejauh ini, Eropa mengatur isu keamanan dan perdagangan terpisah dari AS. Namun, jika kejadian di G7 terulang lagi di NATO, hal itu bisa sangat mengkhawatirkan,” katanya, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (12/6/2018).

Para pejabat di dua negara Eropa mengatakan tidak ada “Rencana B” untuk membentuk sebuah sistem perdagangan dan kemanan internasional tanpa kepemimpinan maupu keterlibatan AS.

Salah seorang pejabat lainnya mengungkapkan, para pemimpin Eropa berharap pemilihan tengah tahun pada November di AS dapat memenangkan mayoritas Partai Demokrat yang dapat membentuk seornag Panglima.

“Ada kejadian berlanjut dengan Trump, yang jelas sekali akan membawa masa depan aliansi Atlantik ke dalam keraguan,” kata Philippe Moreau Defarges, penasihat di Institute for International Affairs di Paris, Prancis.

Namun, dia menambahkan, tampaknya belum ada seorang pun dari Eropa yang memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk membentuk perubahan yang perlu untuk kebijakan pertahanan Eropa sesungguhnya.

Adapun kerja sama pertahanan terbesar di antara anggota Uni Eropa telah ditangguhkan selama bertahun-tahun karena keengganan Inggris untuk membentuk sesuatu yang bisa menyaingi NATO.

Pengunduran diri Inggris dari UE juga telah menyebabkan kehilangan besar bagi Benua Biru untuk membentuk kebijakan pertahanan terintegrasi, meskipun negara lainnya masih ada yang memiliki kemampuan yang sama.

Para pemimpin UE pada akhir lalu telah setuju membentuk pakta pertahanan yang disebut Pesco (Permanent Structured Cooperation), yang hingga kini masih dibatasi dengan 17 proyek untuk area pelatihan prajurit dan pengawasan laut.

Kendati hal tersebut mendapat pujian dari Komisi UE sebagai terobosan besar,pembentukan kekuatan militer bersama yang permanen tampaknya masih jauh.

Tag : nato
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top