MODUS BARU TERORISME: 'Medan Laga' untuk Keluarga

Fenomena serangan bunuh diri oleh wanita bukan pertama di dunia, tapi di Irak dan Suriah juga. Begitu juga [serangan teror] menggunakan anak-anak. Tapi ini baru pertama kali di Indonesia, jelas Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
Fitri Sartina Dewi/ Thomas Mola | 16 Mei 2018 13:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Dugaan atas keterlibatan anggota keluarga mulai dari ayah, ibu dan anak-anak dalam peristiwa aksi teror di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, membuat publik terperanjat, miris, dan mengutuk keras.

Tak cukup sampai di situ. Aksi teror teror yang kembali melibatkan keluarga inti datang secara beruntun. Fenomena ini seakan-akan menandai suatu modus baru aksi teroris di Tanah Air. Pasalnya, perempuan dan anak yang biasanya menjadi korban dari konfl ik dan perang, kini justru ikut turun langsung ke ‘medan laga’.

Peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, misalnya, dilakukan oleh dua anak laki-laki berusia 18 tahun dan 16 tahun. Keduanya merupakan putra dari Dita Oepriarto yang juga melakukan dari aksi bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.

Selain itu, istrinya Puji Kuswati dan kedua anak perempuannya yang berusia 12 tahun dan 9 tahun juga menjalankan aksi bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro, Surabaya. Pada hari yang sama, tragedi bom juga terjadi di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo.

Pada saat itu, bom yang sedang dirakit oleh pelaku yang bernama Anton justru meledak. Akibat kejadian tersebut, Anton dan kedua anggota keluarganya meninggal dunia. Tidak hanya sampai di situ. Peristiwa pengeboman yang melibatkan satu keluarga kembali terjadi sehari setelahnya.

Pada Senin (14/5), insiden bom bunuh diri terjadi di Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Mapolrestabes) Surabaya, yang dilakukan oleh Tri Murtiono dan Tri Ernawati dengan melibatkan ketiga anaknya.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan bahwa keterlibatan ibu dan anak menjadi suatu modus baru. Keterlibatan anak-anak khususnya, menjadi yang pertama kali di Indonesia.

“Fenomena serangan bunuh diri oleh wanita bukan pertama di dunia, tapi di Irak dan Suriah juga. Begitu juga [serangan teror] menggunakan anak-anak. Tapi ini baru pertama kali di Indonesia,” jelasnya.

Merujuk pada ISIS, jelasnya, mereka sudah melakukan bom bunuh diri dengan menggunakan anak-anak. Menurutnya, aksi tersebut tidak terkait dengan agama apapun. Namun, aksi tersebut terkait dengan jaringan baik dalam negeri, regional maupun internasional, seperti Filipina dan Timur Tengah.

Sekadar catatan, penelitian yang dilakukan Pusat Kajian Terorisme dan Konfl ik Sosial Universitas Indonesia menyebutkan bahwa mayoritas aksi terorisme di Indonesia memang dilakukan oleh kelompok ISIS. Dari 2015—2017, hanya 11 orang pelaku aksi terorisme yang bukan bagian dari ISIS.

TERORIS PEREMPUAN

Selama periode 2016—2017, tercatat setidaknya ada sekitar 10 perempuan yang ditangkap karena tindak pidana terorisme. Adapun, tiga di antaranya merencanakan akan melakukan aksi bom bunuh diri.

Berdasarkan penelitian tersebut, proses radikalisasi, termasuk kepada perempuan berlangsung cepat karena penggunaan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan paham radikal. Kendati demikian, indoktrinasi secara offl ine masih tetap dinilai memegang peranan penting.

Irjen Pol (Purn.) Benny Mamoto, Ketua Progam Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia, mengatakan bahwa keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme di Indonesia menjadi suatu modus yang baru.

Namun, modus yang sama telah lama berkembang di wilayah Timur Tengah. Modus bom bunuh diri oleh perempuan pada umumnya dilakukan di tempat publik yang memiliki gema publikasi yang kuat. “Memang ini modus baru di Indonesia tapi di luar negeri sudah lama, bahwa satu keluarga inti, bapak, ibu, dan anak melakukan bom bunuh diri. Ini tidak mudah dipantau oleh aparat,” ujarnya kepada Bisnis.

Benny menuturkan bahwa aparat menjadi kesulitan untuk memantau teroris dengan modus keluarga karena semua komunikasi yang dibangun terjadi di dalam rumah. Hal itu berbeda dengan pola lama ketika komunikasi jaringan teroris menggunakan media sosial yang bisa dilacak. Keterlibatan perempuan dan anakanak, paparnya, juga disebabkan oleh budaya ketika istri dan anak harus patuh kepada suami atau orangtua.

Kepatuhan itu kemudian dibingkai dengan ajaran agama sehingga kegiatan doktrinisasi radikal menjadi lebih mudah.

Menurutnya, keterlibatan perempuan dan anak dalam aksi teror yang terjadi di Surabaya ini tidak lepas dari dua fakta menarik. Pertama, berkembangnya benihbenih radikal mulai dari bangku sekolah dan keluarga.

Menurutnya, peristiwa teror di Jawa Timur merupakan buah dari benih radikalisasi yang berkembang bebas di sekolah, mulai dari rumah, sekolah dasar hingga perguruan tinggi. “Kalau membaca [dari] cerita teman sekolah salah satu pelaku bom bunuh diri yang sempat beredar di media sosial, ciri-ciri radikal sejatinya sudah bisa diidentifi kasi. Jika tidak ada langkah nyata, proses pencetakan pelaku teroris pada masa depan terus berlanjut.”

Kedua, peristiwa Kerusuhan di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, diduga telah memicu aktifnya sel-sel jaringan teroris. Pembunuhan beberapa polisi dengan cara-cara yang tidak manusiawi juga menjadi salah satu metode untuk menunjukkan eksistensi dan identitas kelompok teroris yang dekat dengan ISIS.

 Jejaring teroris tersebut, jelas Benny, hanya menunggu pemicu untuk bergerak liar karena mereka diduga telah mempersiapkan diri cukup lama.

Hal itu terbukti dengan beberapa penggeledahan oleh Detasemen Khusus Anti Teror yang menemukan beberapa bom siap meledak alias hanya menunggu instruksi.

“[Mengenai] alasan makanan [yang memicu kerusuhan di Mako Brimob], sebetulnya mereka [teroris] mencari pemicu, apa yang bisa memprovokasi semua. Menyerang dari luar berhasil ditangkap, sekarang dari dalam. Menggorok leher adalah cara menunjukkan identitas,” imbuhnya. STRATEGI ISIS

Pada sisi lain, riset yang dirilis CSIS berjudul Intoleransi Dan Radikalisme di Kalangan Perempuan menyajikan data menarik. Riset di lima wilayah (Bogor, Depok, Solo Raya, Malang, dan Sumenep) itu menyebutkan peran perempuan dalam radikalime tidak bisa dipandang sebelah mata.

Di Tanah Air, walaupun jumlah keterlibatan perempuan pada kasus teroris masih sangat kecil, tren ini terus meningkat. Riset itu menyebutkan bahwa salah satu alasan keterlibatan perempuan yang kian meningkat dalam aksi teror sejalan dengan perubahan strategi ISIS sejak 2013.

Sejak ISIS terdesak di Suriah dan Irak, ISIS mengubah taktik perjuangan yakni kegiatan amaliyah yang dilakukan dengan cara apa saja dan di mana saja.

Perubahan ini memberikan ruang terbuka bagi perempuan untuk berperan mulai dari menyebarkan informasi di dunia maya hingga mengeksekusi di lapangan.

Kajian yang sama menyebutkan bahwa peran perempuan dalam radikalisme juga berbeda dengan lelaki. Perempuan sebagai ibu berperan mendidik generasi muda pelaku teroris. Tambah lagi, dalam budaya patriarki, perempuan dipandang tidak berbahaya dibandingkan dengan laki-laki.

Rizka Nurul peneliti terorisme dari mYayasan Prasasti Perdamaian menuturkan bahwa aksi teror di Surabaya menjadi salah satu peristiwa bom bunuh diri pertama yang berhasil meledak. Sebelumnya, upaya bom bunuh diri selalu bisa digagalkan.

“Ini agak mengherankan dan patut menjadi evaluasi bersama. Mengapa pada saat Dian [Dian Yulia Novi] bisa digagalkan sedangkan yang saat ini justru kecolongan,” tulisnya kepada Bisnis.

Rizka berpendapat bahwa keterlibatan perempuan dan anak terutama karena kepatuhan dan doktrin oleh suami. Hal itu diperparah dengan akses ideologi tertentu melalui dunia maya yang membenarkan paham radikalisme.

Menurutnya, kegiatan terorisme yang bermuara dari keluarga sangat sulit diatasi malalui pendekatan ideologi. Pemerintah dan semua pemangku kepentingan harus mampu menciptakan ruang terbuka guna mengomunikasikan kegelisahan dan kekecewaan masyarakat.

Yuniyanti Chuzaifah, Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), mengatakan bahwa perlu dilihat lebih jauh keterlibatan perempuan dalam aksi teroris. Terlepas dari adanya kerelaan karena dorongan keyakinan, keterlibatan perempuan tidak bisa dilepaskan dari relasi dan hirarki gender yang timpang.

Doktrin kepatuhan itu, ujarnya, melemahkan posisi tawar perempuan di tengah budaya maskulin dalam lingkaran jaringan kelompok radikal.

Dia menegaskan bahwa Komnas Perempuan mengkhawatirkan adanya tren perekrutan perempuan menjadi pelaku bom kian membesar. Hal ini karena asumsi bahwa perempuan berpotensi lebih militan daripada laki-laki. Perempuan juga dianggap mahir memanipulasi situasi agar tidak mudah dicurigai lawan untuk alasan keamanan. “Memanfaatkan peran perempuan sebagai ibu juga strategis untuk mentransmisikan ideologi radikal, dan mempersiapkan anak-anak menjadi martir,” jelasnya. Menurutnya,

Komnas Perempuan mendorong negara untuk memprioritas penanganan dan pemulihan para korban terorisme. Hal itu dilakukan dengan cara memberikan dukungan yang dibutuhkan sebagai pemenuhan hak para korban, termasuk perempuan korban.

Selain itu, mendorong DPR untuk segera menyelesaikan pembahasan revisi atas Undang-Undang No.15/2003 tentang Tindak Pidana Terorisme dengan menekankan pada penanganan terorisme secara komprehensif. Pembahasan revisi juga dianggap perlu menggunakan kerangka due diligence, berperspektif HAM dan gender, termasuk memberikan jaminan perlindungan dan pemulihan bagi para korban tindakan terorisme.

*) Ini adalah artikel Laporan Khusus yang dimuat di koran Bisnis Indonesia edisi Selasa 15 Mei 2018

Tag : bom
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top