Pemilu Mesir, Sandiwara Demokrasi di Bawah Tekanan?

Pemilihan Presiden Mesir berakhir hari ini, Rabu (28/3/2018), dengan perkiraan sang petahana, Abdel Fattah El-Sisi menyapu bersih raihan suara setelah pada periode sebelumnya memenangkan 97% suara pemilih.
John Andhi Oktaveri | 28 Maret 2018 12:34 WIB
Seorang pemilih mencelupkan jarinya ke tinta saat berlangsung Pemilihan Presiden Mesir di Kairo, 27 Maret 2018. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Pemilihan Presiden Mesir berakhir hari ini, Rabu (28/3/2018), dengan perkiraan sang petahana, Abdel Fattah El-Sisi menyapu bersih raihan suara setelah pada periode sebelumnya memenangkan 97% suara pemilih.

Satu-satunya penantang Sisi adalah Musa Mustafa Musa yang boleh disebut sebagai sekadar “pelengkap penderita” demokrasi di negara yang mengagungkan pluralisme tersebut.

Wartawan ArabNews mengaku kesulitan untuk menemukan siapa yang memiliih Musa setelah berupaya berpindah dari satu kotak suara ke kotak suara lain sejak pemilu dimulai Senin lalu.

Nadia, seorang ibu rumah tangga berusia 40 tahun mengaku mendukung Musa. Dia beralasan memilih Musa bukan karena kagum dengan program kampanye Musa, namun lebih kepada tidak ingin melihat demokrasi berjalan tidak menarik.

“Saya di sini untuk memilih Musa Mustafa Musa karena saya tidak ingin hasil pemilu kelihatan buruk,” ujarnya sambil tersenyum sebagimana dikutip Arabnews.com, Rabu (28/3/2018).

Pihak oposisi mengklaim pemerintah telah menekan calon presiden yang potensial sehingga tidak berani untuk muncul. Musa pun mendaftar pada menit-menit terakhir dan mengaku dirinya mendaftar karena tidak ingin mempermalukan Sisi.

Selama masa kampanye, pemimpin partai sekuler Al Ghad bahkan memasang spanduk yang mendukung Sisi.

“Kami mendukung Sisi untuk periode kedua,” menurut tulisan pada spanduk tersebut.

Akan tetapi, Musa membantah tudingan bahwa dia dimamfaatkan hanya untuk berpura-pura bersaing dengan Sisi. Sedangkan Komisi Pemilihan Umum Mesir menyatakan tidak ada rekayasa dalam pemilu kali ini.

Bahkan menariknya, Musa menyatakan bahwa keikutsertaannya dalam kompetisi politik itu bertujuan untuk menyelamatkan Mesir. Undang-undang Mesir tidak membolehkan calon tunggal untuk pemilu presiden.

“Jika dia gagal maka semua rakyat Mesir akan terpuruk,” ujarnya dalam sebuah wawancara televisi.

 

 

Tag : mesir
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top